Damai Aceh dan Impiannya

GEMA JUMAT, 17 AGUSTUS 2018

Sebuah konflik bersenjata menyisakan luka yang mendalam. Konflik tidak jarang memakan korban, entah itu kalangan anak-anak, perempuan, dan kaum lelaki. Akibat konflik anak-anak banyak yang menjadi yatim, perempuan menjadi janda. Belum lagi ditambah trauma berkepanjangan, meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran, serta merosotnya kualitas pendidikan.

Pada masa konflik di Aceh, masyarakat dihadapkan pada kondisi yang sangat terbatas. Para petani ketakutan pergi ke kebun sehingga banyak perkebunan tidak terurus dengan baik. Tidak sedikit perempuan mengalami perkosaan, dan sebagainya.

Sekarang sudah 13 tahun perdamaian sejak ditandatangani perjanjian perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005. Tentunya, banyak harapan dan impian yang sebelumnya tidak dapat diwujudkan, namun semangatnya mulai tumbuh kembali. Orang-orang sudah bisa beraktifitas dengan sangat leluasa. Bahkan masyarakat sama sekali tidak takut keluar malam untuk sekadar minum kopi.

Pada dasarnya, orang yang benar-benar merasakan nikmatnya perdamaian adalah mereka yang tahu betul pahitnya konflik. Semakin kita merasa sakit, pada saat itu pula kita paham sekali bagaimana hangatnya perdamaian ini. Sehingga perdamaian merupakan sesuatu yang sangat berharga dan wajib dipertahankan.

Meskipun sudah 13 tahun umur perdamaian ini, kita jangan terlena dengan euforia berkepanjangan. Kita patut bersyukur kepada Allah Swt yang memberikan kita kesempatan untuk hidup penuh damai. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu segera kita tuntaskan. Persoalan kesejahteraan, pengangguran, peningkatan kualitas pendidikan, dan lainnya harus segera kita selesaikan. Mungkin kita sudah tertinggal jauh dari daerah lain. Namun lebih baik terlambat dari pada tidak berusaha sama sekali menuju Aceh hebat.

Aceh hebat diwujudkan dengan menjaga perdamaian ini sampai selamanya. Kita bergerak bersama mewujudkan cita-cita perdamaian, yaitu lapangan kerja yang luas, membaiknya kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, serta menumbuhkan iklim ekonomi yang semakin baik. Dengan adanya hak otonomi khusus, Aceh sudah menerima puluhan triliunan. Uang tersebut adalah untuk membangun Aceh yang sempat berantakan. Dana sebesar itu miliki rakyat dan harus kembali ke pangkuan rakyat. Zulfurqan

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!