Interaksi Masyarakat Aceh dengan Al-Quran

GEMA JUMAT, 17 MEI 2019

Masyarakat Aceh adalah masyarakat Al-Quran, yaitu masyarakat yang interaksinya dengan Al-Quran sudah cukup baik. Ukuran cukup baik jika kita bandingkan dengan masyarakat lainnya lainnya di Nusantara ini. Banyak pihak mengakui masyarakat Aceh lebih baik dalam membaca, memahami dan mengamalkan Al-Quran. Fakta ini dapat dilihat dari banyak peristiwa dan kegiatan sehari-hari.

Sepanjang bulan Ramadhan, misalnya, kita menemukan masyarakat Aceh membaca Al-Quran berkelompok di masjid-masjid dan meunasah/mushalla. Hal ini dilakukan hingga larut malam. Pada penghujung Ramadhan nantinya dilakukan kenduri khatam Al-Quran. Selain itu, tentu saja, masyarakat secara pribadi membaca Al-Quran di rumah dan bahkan di tempat kerja masing-masing.

Selanjutnya modernisasi baca Al-Quran dilakukan dalam bentuk perlombaan atau musabaqah. Biasanya Organisasi Remaja Masjid (ORM) mengorganisir para pembaca Al-Quran melalui berbagai bentuk lomba seperti tilawaf, hafalan, pidato dan cerdas cermat Al-Quran. Kegiatan ini sebagai syiar untuk mengisi malam-malam Ramadhan dan memotivasi kaum muda lebih giat lagi belajar Al-Quran.

Dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat Aceh semakin mengenal interaksi dengan Al-Quran dalam bentuk Karantina Tahfidz. Selama satu atau dua pekan Ramadhan, pelajar dan remaja Aceh mengikuti paket tahfidz Al-Quran yang difasilitasi oleh pesantren tahfidz. Dengan kegiatan ini, diharapkan pelajar dan remaja yang sedang libur sekolah/madrasah dapat menambah hafalan ayat-ayat Al-Quran.

Suasana interaksi dengan Al-Quran dapat pula kita lihat dalam bentuk lain, di dalam dan di luar Ramadhan. Misalnya, masyarakat Aceh semakin meminati pilihan pendidikan anak pada pesantren tahfidz, masjid-masjid mengontrak imam yang hafidz dan penyediaan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang hafidz. Tahfidz seakan menjadi bagian dari kebahagiaan masyarakat Aceh masa kini.

Interaksi masyarakat Aceh dengan Al-Quran ternyata tak terbatas hanya membaca, mengikuti MTQ atau menjadi hafidz, namun berkesempatan mengamalkan Al-Quran dalam bentuk regulasi atau pengaturan syariat Islam. Qanun syariat Islam tentang jinayah, lembaga keuangan, produk halal dan qanun lainnya diyakini berkonten Al-Quran. Semoga di masa yang akan datang antara kita dan Al-Quran lebih menyatu lagi. Sayed Muhammad Husen  

Shaf—

Ramadhan memasuki sepuluh kedua

Semoga jamaah tarawih bertahan

Selama Ramadhan bisnis tetap lancar

Semoga tak kurangi ibadah sunnah

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!