Kemana Baitul Mal Melangkah

Jum’at, 01 Juli 2016

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Kemana Baitul Mal melangkah? Ini pertanyaan penting, mengingat Baitul Mal Aceh bersama Pemerintah Aceh dan DPRA sedang membahas Draf Qanun Pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah  (ZIS) sebagai pengganti Qanun Nomor 10 tahun 2007 tentang Baitul Mal. Sebelumnya sudah diganti juga Qanun 7 tahun 2004 tentang Pengelolaan Zakat. Qanun yang akan disahkan itu diyakini akan menentukan langkah atau arah gerakan Baitul Mal di Aceh.

Dalam operasional Baitul Mal se Aceh sejak Januari 20014, telah memperlihatkan peningkatan kinerja, sehinga Sekretaris LAZISMU Aceh, Muhammad Yamin mencatat, Baitul Mal se Aceh rata-rata mengumpulkan zakat Rp 8 miliar setahun. Baitul Mal Aceh saja mengumpulkan zakat dan infak tiap tahun hampir Rp 50 miliar. Semua zakat ini disalurkan untuk program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan.

Karena itu, terkait dengan pengesahan qanun baru, Baitul Mal paling tidak harus memperhatikan tiga hal supaya qanun itu memberi solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi, sekaligus menguatkan hal-hal positif dan kinerja yang telah dicapai. Pertama, qanun barus memberi kelonggaran yang luas terhadap pengelolaan ZIS sebagai keistimewaan dan kekhususan Aceh. Penatausahaan ZIS dapat mengintegrasikan prinsip-prinsip syariah dan regulasi keuangan.

Kedua, Baitul Mal seharusnya menjadi badan pengelola zakat dan harta keagamaan lainya yang modern dan berstandar internasional. Untuk itu, qanun baru mestilah membentuk struktur organisasi Baitul Mal yang mampu menampung beban besar gerakan zakat Aceh. Kapasitas sumber daya insani dan manajeman Baitul Mal yang diperlukan adalah yang bisa melakukan penggalangan zakat Aceh mendekati potensi Rp 1,4 triliun pertahun.

Ketiga, qanun baru harus mempertegas peran negara/pemerintah dalam pengelolaan zakat dan harta keagamaan di Aceh. Pemerintah sejak 2008 telah membentuk Sekretariat Baitul Mal se Aceh untuk memfasilitasi segala kebutuhan Baitul Mal, termasuk penyediaan biaya operasional yang memadai. Untuk ini, status Baitul Mal tak boleh lagi abu-abu, apakah stuktural, non struktural atau independen.

Kita berharap, Baitul Mal melangkah lebih lebih dinamis kearah yang sejajar dengan organisasi filantropi dunia, tentu saja, dengan memperhatikan sunnah pengelolaan ZIS, psikologi sosial Aceh dan kebutuhan zaman. Dalam prediksi kita, Baitul Mal se Aceh lima tahun akan datang, akan menjadi badan pengelola zakat dan harta keagamaan yang profesional, modern dan berstandar internasional.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!