Pentingkah Regulasi Pengeras Suara

GEMA JUMAT, 31 AGUSTUS 2018

Oleh:  Sayed Muhammad Husen

Masjid pusat kegiatan ummat yang memerlukan kualitas pengeras suara terbaik. Hampir seluluh kegiatan di masjid menggunakan pengeras suara, supaya jamaah, peserta pertemuan, pengajian dan kegiatan lain dapat berkomunikasi secara efektif. Pada awalnya,  pengeras suara digunakan untuk menyebarkan suara azan, selanjutnya dipakai pula untuk bebebabai keperluan dan kepentingan.

Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, misalnya, pengeras suara digunakan hampir pada semua kegiatan, kecuali dalam pertemuan kecil, rapat-rapat, pengajian terbatas,  pensyahadatan, pernikahan dan pengajian TPQ (Taman pendidikan Quran).

Ada dua jenis pengeras suara di masjid, suara di dalam dan suara luar masjid. Sejak 30 menit jelang Shubuh, MRB telah mengumandangkan azan pertama dengan menggunakan suara luar. Dilanjutkan 20 menit pengajian Quran jelang Shubuh, azan Shubuh, iqamah dan terakhir kuliah Shubuh 15 hingga 20 menit. Semuanya menggunakan suara luar.

Setiap jelang waktu shalat lima waktu, MRB mengawali dengan pengajian Quran 20 menit menggunakan suara luar, sehingga masyarakat di sekitar masjid dapat bersiap-siap ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ini kebiasaan yang telah berlangsung lama. Sementara pelaksanaan shalat menggunakan suara dalam, namun beda halnya dengan shalat tarawih, tadarus, Jumat  dan Idul Fitri/Idul Adha menggunakan suara luar, karena banyak juga jamaah yang shalat di halaman luar masjid. Ceramah lepas Maghrib sampai Insya sekitar 45 menit juga menggunakan suara luar.

Hal baru penggunaan suara luar di MRB adalah kegiatan zikir yang berlangsung malam Selasa dan malam Jumat, yang diselenggarakan oleh organisasi masyarakat. Kegiatan zikir ini dirangkai shalat taubat dan taushiah yang seluruh prosesinya menggunakan suara luar. Kegiatan lain misalnya peringatan hari-hari besar Islam, peringatan perdamaian, shalat gerhana, tabligh akbar,  juga menggunakan suara luar.

Sejauh ini tak ada yang protes terhadap suara luar pengeras suara MRB. Maka dapat kita simpulkan, bagi MRB tak penting regulasi atau pengaturan pengeras suara. Lalu bagaimana dengan masjid-masjid lain seluruh Aceh? Kita tunggu pendapat mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!