Sosialisasi Budaya Membaca Berbasiskan Masjid

GEMA JUMAT, 19 OKTOBER 2018

Setelah payung raksasa dan lantai marmer dibangun, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu tempat yang paling nyaman untuk membaca. Apalagi Masjid Raya memiliki perpustakaan yang layak, tentunya fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan program peningkatan minat baca berbasiskan masjid. Program ini bisa menjadi respon terhadap rendahnya minat baca masyarakat Aceh.

Kegiatan peningkatan minat baca dapat dilaksanakan melalui display buku-buku di bawah payung masjid sekali seminggu yang bisa dibaca jemaah secara gratis. Tema buku-buku tersebut disesuaikan dengan kalangan jemaah yang beragam. Salah satu tujuannya adalah mengajak masyarakat menjadikan perpustakaan sebagai pusat referensi. Apalagi seiring perkembangan teknologi banyak sekali kabar bohong (hoax) di media sosial.

Program perpustakaan perlu disusun sekreatif mungkin agar menarik minat jemaah. Misalnya mengajak komunitas-komunitas literasi turut berpartisipasi mengadakan lomba membaca cepat, meresensi buku, debat, dan sebagainya. Seyogianya perpustakaan Masjid Raya menjadi role model bagi masjid-masjid lainnya di Aceh. di sisi lain, program “terjun lapangan” itu akan semakin mempertegas kehadiran perpustakaan di tengah-tengah masyarakat maupun jemaah.

Manfaat membaca

Rendahnya minat baca dapat diakibatkan karena orang tua maupun lingkungan tidak membudayakan membaca sejak dini kepada anak-anak. Padahal membaca sangat bermanfaat mengasah kemampuan berpikir anak yang kritis, menambah wawasan, serta membuat anak semakin kreatif. Selain itu, semakin banyak bahan bacaan yang dibaca memperkaya penggunaan kosa kata.

Kita sungguh menyayangkan bahwa budaya membaca masih dianggap sebagai kegiatan eksklusif. Artinya, ketika membaca buku di tempat umum atau suka membaca dianggap hobi yang keren semakin menunjukkan bahwa masyarakat tabu dengan kegiatan membaca.

Masyarakat di negara-negara maju seolah tidak pernah terlepas dengan buku. Membaca buku dijadikan sebagai kegiatan untuk merelaksasikan pikiran. Bahkan saat berekreasi ke tempat wisata mereka menyertakan buku sebagai bahan bacaan wajibnya. Kita sangat jarang melihat budaya seperti itu di Aceh. Walaupun ada, masyarakat membawa buku agar bisa berfoto dengannya dan kemudian di posting di media sosial.

Tingkat minat baca merupakan salah satu indikator sejauh mana suatu daerah maju karena membaca berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Sementara itu, kualitas daerah menentukan perkembangan daerah. Dengan kata lain, daerah yang maju dapat dipastikan masyarakatnya rajin membaca, kualitas pendidikannya maju. Zulfurqan

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!