Zakat Berdayakan Muallaf

GEMA JUMAT, 05 MEI 2017

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Diskusi terfokus tentang pembinaan muallaf di PPISB Unsyiah di kampus Darussalam, pekan lalu, masih mencari pengertian muallaf yang dapat dioperasionalkan dalam pembinaan “saudara baru” ini di Aceh. Siapa pula yang memiliki otoritas mendefinisikannya, masyarakat sipil muslim, organisasi muallaf atau negara. Diskusi setengah hari itu belum juga menemukan kata sepakat.

Menurut Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Fikih Zakat, muallaf adalah orang yang dicondongkan hatinya dengan perbuatan baik dan kecintaan. Adapun dalam pengertian syariah, muallaf adalah orang-orang yang diikat hatinya untuk mencondongkan mereka pada Islam, atau untuk mengokohkan mereka pada Islam, atau untuk menghilangkan bahaya mereka dari kaum muslimin.

Ulama besar lainya, Wahbah Azzuhaili mengatakan, para fuqaha berbeda pendapat apakah hak zakat bagi muallaf telah gugur sekarang. Menurut ulama Hanafiyah, hak zakat itu telah gugur setelah Islam kuat dan tersebar luas. Sedangkan jumhur ulama, yaitu ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, berpendapat hak zakat bagi muallaf tidak gugur.

Dalam kajian HTI (hizbut-tahrir.or.id, 2013) menyimpulkan: muallaf adalah orang muslim (bukan kafir) yang menurut Khalifah (baca: pemerintah) dengan memberikan zakat kepada mereka akan terwujud suatu kemaslahatan dengan kokohnya keislaman mereka.

Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh (DPS-BMA) mendefinisikan, muallaf adalah orang kafir yang masuk Islam dalam rentang waktu tiga tahun. Mereka berhak mendapatkan zakat. Setelah tiga tahun, mereka tak diberikan lagi zakat dari senif muallaf. Jika mereka masih berstatus fakir atau miskin, maka zakat diberikan bukan sebagai muallaf, namun boleh mendapatkan zakat dari senif fakir atau miskin.

Baitul Mal Aceh dengan dana zakat mengintervensi mualllaf melalui kegiatan bantuan karitatif, beasiswa, pembinaan dan pemberdayaan ekonomi. Bantuan karitatif diberikan dalam bentuk bantuan tunai, bahan bacaan, pakaian, dan peralatan shalat. Pembinaan dilakukan melalui pelatihan syariah dan pengajian Islam. Diberikan juga beasiswa kepada anak muallaf dan pemberdaan ekonomi dalam wujud modal usaha.

Pembinaan muallaf yang dianggap strategis  adalah bantuan beasiswa berkelanjutan bagi anak muallaf hingga sarjana dan pemberdayaan ekonomi melalui pendampingan dan penyediaan modal usaha. Dengan strategi ini diharapkan muallaf (yang miskin) dapat berdaya dan bisa keluar dari kemiskinan. Muallaf yang telah dibina diharapkan juga berfungsi sebagai referensi bagi non muslim di dalam keluarga/sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!