Lakum Dinukum Waliya Dien

GEMA JUMAT, 21 DESEMBER 2018

Oleh H. Basri A. Bakar

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. (QS. Al Kafirun: 1-6)

Ar-Razi dalam kitab Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa surat ini juga dikenal dengan nama Al-Muqasqisyah (penyembuh), karena kandungan surat ini diyakini bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit nifaq dan kemusyrikan.

Abu Hayyan (wafat pada 745 H) dalam tafsirnya Al-Bahru Al-Muhith menjelaskan perihal sebab turunnya surat Al Kafirun. Disebutkan, ada beberapa tokoh kaum musyrikin Mekkah mendatangi Rasulullah SAW, di antaranya Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Aswad bin Abdul Mutthalib, menawarkan kompromi menyangkut cara beragama.

Pada mulanya mereka menawarkan harta, wanita dan tahta kepada baginda Rasulullah SAW supaya beliau berhenti dari aktivitas dakwahnya, namun tawaran mereka ditolak terang-terangan oleh Rasulullah SAW. Tidak putus asa, kemudian mereka menawarkan agar sesekali mereka ikut menyembah Tuhannya Muhammad, dan pada waktu lainnya Rasulullah dan pengikutnya menyembah tuhan mereka.

Untuk menjawab tawaran itu maka turunlah surat tersebut. Sebenarnya penolakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu sudah benar, kemudian didukung lagi oleh wahyu Allah melalui Jibril a.s, karena tidak mungkin terjadi penyatuan agama-agama, mustahil kebenaran bercampur dengan kebatilan.

Apa yang terjadi dimasa Rasulullah, kini kompromi tersebut muncul lagi dalam berbagai modus. Seperti ada anggapan bahwa mengucapkan Selamat Natal atau memperingati natal itu boleh-boleh saja sebagai bentuk toleransi beragama. Islam adalah agama yang tidak bisa tawar menawar terhadap akidah. Inilah prinsip yang sudah jelas diajarkan dalam akidah Islam. Agama ini mengajarkan tidak pernah loyal atau berlepas diri dari orang kafir, dari peribadatan mereka, dari perayaan mereka dan dari berbagai hal yang menyangkut agama mereka. Oleh karena itu generasi muda Islam tidak boleh ikut-ikutan merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi meski dengan bentuk-bentuk sederhana apalagi dengan menghabiskan uang dengan pesta kembang api dan acara sejenis.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!