Tegas terhadap Kafir

GEMA JUMAT, 7 DESEMBER 2018

Oleh H. Basri A. Bakar

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…(QS. Al Fath : 29)

Dalam ayat tersebut disebutkan ciri orang yang bersama dengan Nabi Muhammad saw, yaitu memiliki sifat keras dan tegas terhadap orang-orang  kafir serta lemah lembut kepada sesama muslim, inilah akhlaq yang harus dimiliki sebagai muslim sejati. Demikian pula dalam sebuah hadits, Rasulullah  diperintahkan tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai teman sejati, pelindung dan pemimpin.  Seharusnya ummat Islam bersikap keras kepada mereka, bukan malah bermesraan dan mengangkat mereka sebagai pemimpin.

Ayat yang secara khusus mewajibkan umat Islam berperang untuk membela Islam yang sifatnya mempertahankan diri atau defensive. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Baqarah: 190).

Berperang di jalan Allah, antara lain berupa berperang melawan orang kafir yang memerangi umat Islam, yang disebut jihad fi sabilillah. Asal makna jihad adalah mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini (diiktikadkan) bahwa jalan itulah yang benar. Secara harfiyah, jihad berarti pengerahan seluruh potensi (untuk menangkis serangan musuh).

Jika ummat Islam bangkit dengan demo besar-besaran di Jakarta tanggal 2 Desember yang lalu dengan jumlah melebihi aksi simpatik tahun 2016 adalah bentuk pembelaan agama agar tidak semena-mena dihina oleh golongan kafir. Atau reuni 212 tersebut berlangsung damai sebagai bukti bahwa Islam bukan radikal, terorisme dan suka kekerasan seperti yang dituduhkan selama ini.

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!