Rasulullah SAW Teladan Kejujuran

GEMA JUMAT, 2 AGUSTUS 2019

Oleh: Suraiya Yusuf, MA

Kejujuran adalah ruh dari kerasulan. Tidak ada seorang Rasul yang telah dipilih oleh Allah  sebelum ia memang telah terbukti sebagai seorang yang benar. Sebelum kebenaran dan kejujuran betul-betul terwujud dalam dirinya sungguh ia tidak laik untuk menjadi Rasul. Sikap ini bersifat mutlak, sebab jika tidak ada kejujuran dan amanah maka ia akan hancur dengan sendirinya.

Betapa tingginya derajat kejujuran. Semua berawal dari kejujuran, tidak ada orang yang bisa menjadi pribadi yang shaleh sebelum berkata benar. Jika kejujuran dapat diraih maka akan sangat mudah meraih tahapan-tahapan berikutnya. Sebaliknya jika kejujuran ternoda dengan kedustaan maka akan hilanglah integritas seseorang. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Albert Einstein “Siapa yang tidak memperhatikan kejujuran dalam hal-hal kecil ia tidak dapat dipercaya untuk hal-hal yang penting.”

Sekarang ini masyarakat kita dihadapkan pada berbagai persoalan moral bangsa yang demikian mengkhawatirkan. Indikasi yang menunjukkan hal tersebut antara lain semakin memudarnya kejujuran dan merajalelanya kebohongan, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mahal sementara itu praktek kebohongan telah mewarnai hampir disetiap lini kehidupan bangsa.

Dalam hal ini Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah  menjelaskan tentang sifat jujur itu sendiri bahwa “Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka.”

Menyikapi permasalahan ini kita dapat kembali menelaah kehidupan Rasulullah yang menjadi teladan kita dalam berprilaku, Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta, hingga salah seorang istri beliau, Sayyidah Aisyah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah “Al-Qur’an”. Tidak satu perkataan Rasulullah merupakan implementasi dari hawa nafsu beliau, melainkan adalah berasal dari wahyu Ilahi. Begitu halus dan lembutnya perilaku keseharian beliau.

Hal ini juga terlihat dari sebelum diutus sebagai Rasul, Muhammad terkenal karena kejujurannya. Beliau digelari ash-shadiq al-amin (jujur dan terpercaya). Tiga tahun sesudah Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan Rasul saw, Allah menyuruhnya agar berdakwah secara terang- terangan.

Langkah yang dilakukan oleh Rasulullah saw berdiri diatas bukit Safa seraya menyeru kepada kaum Quraisy untuk berkumpul, “wahai kaum Quraisy kemarilah kalian berkumpul kalian semua, aku akan memberikan sebuah berita kepada kalian semua. Mereka datang berduyun-duyun mendengar  berita dari Rasulullah saw. “saudara-saudaraku jika aku memberi khabar kepadamu, dibalik bukit ini ada musuh yang sudah siap siaga menyerang kalian, apakah kalian semua percaya? Tanpa ragu sedikitpun semuanya menjawab mantap,” percaya”

Kemudian Nabi bertanya kembali, “mengapa kalian langsung percaya tanpa terlebih dahulu membuktikannya? Tanpa ragu mereka kembali menjawab. “engkau sekalipun tidak pernah berbohong, wahai al-amin. Engkau adalah manusia yang paling jujur yang pernah kami kenal.

Kejujuran Rasulullah bahkan musuh sendiri mengakuinya. Sifat kejujuran Rasulullah saw menjadi teladan bagi ummat Islam seluruhnya untuk membentuk dan menjadikan masyarakat dan juga bangsa ini kembali damai dan sejahtera.

Rasulullah saw bersabda“Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicatat disisi Allah sebagai ash-shidiq orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan kejalan kejelekan dan sesungguhnya kejelekan itu mengantarkan kedalam an-nar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta. (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sebuah kejujuran akan tegaknya kebenaran, keadilan dan sekian banyak kebaikan dibaliknya, namun sebaliknya dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuhnya dalam kezaliman, yang berakibat memudarnya sikap saling percaya bahkan akan timbul permusuhan dan kebencian. Dan pada akhirnya akan timbulnya kekacauan dan ketidakharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!