182  Anak Muallaf Dapat Beasiswa BMA

GEMA JUMAT, 7 SEPTEMBER 2018

Banda Aceh (Gema) – Baitul Mal Aceh (BMA) menyalurkan zakat dalam bentuk beasiswa penuh anak muallaf sejak 2012. Hingga saat ini jumlah anak muallaf yang disekolahkan BMA sebanyak 182. Dari jumlah tersebut sebanyak 62 orang sudah lulus, sedangkan sisanya masih dalam pendidikan.

“Setiap tahun kita surati Baitul Mal Kabupaten/kota untuk mengirimkan data anak-akan muallaf di daerah rawan akidah untuk kita verifikasi, setelah diputuskan layak, mereka langsung disekolahkan,” kata Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani yang didampingi Kepala Sekretariat Muhammad Iswanto.

Dia mengatakan, program pemberdayaan muallaf melalui pendidikan ini merupakan program rutin BMA setiap tahun. Bantuan seperti ini untuk menekan angka putus sekolah dan memutuskan mata rantai kemiskinan di Aceh, sehingga ia tak mewarisi kemiskinan dari orang tuanya.

Sementara tahun 2018 sebanyak 30 anak dari keluarga muallaf tingkat SLTP dan SLTA mendapatkan beasiswa penuh dari BMA tahun 2018. Ke-30 anak muallaf tersebut sudah mulai masuk ke pesantren-pesantren mitra Baitul Mal Aceh.

Kepada anak muallaf yang menerima beasiswa ini ditanggung penuh semua keperluan selama di pesantren seperti uang transportasi dari daerahnya, perlengkapan sekolah, uang masuk, SPP, biaya buku bacaan, dan uang jajan mereka setiap bulannya.

“Untuk tahun 2018, dana zakat yang dianggarkan untuk 30 anak muallaf tersebut yang baru masuk sekolah sebesar Rp387 juta,” ujar Zamzami.

Anak muallaf penerima beasiswa tersebut diprioritaskan bersal dari daerah rawan akidah yang berbatasan langsung dengan Sumatra Utara seperti Aceh Tenggara. Subulussalam, Aceh Tamiang, Aceh Singkil, dan Simeulue. Namun juga ada dari Aceh Besar dan Banda Aceh.

Zamzami menambahkan, beasiswa tersebut diberikan kepada anak muallaf ini untuk membentengi akidah mereka. Apalagi masih banyak dari mereka yang dibujuk oleh keluarganya yang masih nonmuslim untuk kembali ke agama sebelumnya dan berjanji akan menyekolahkan anak-anaknya.

“Oleh karena itu mereka harus diselamatkan sebelum terpengaruh dengan ajakan keluarga mereka,” kata Zamzami.

Selain untuk membentengi akidah mereka, juga membantu beban ekonomi orang tuanya yang tak sanggup menyekolahkan mereka. Sehingga ketika mereka dewasa nanti mampu mengajarkan adik-adiknya ilmu agama.

“Untuk pesantren yang bermitra dengan BMA yaitu pesantren yang ada program sekolah dan pengajian, seperti Nurul Fikri Seulimum, Daruzzahidin, dan Islamic Solidarity School (ISS),” tambahnya.

Bantu Lombok  

Pada kesempatan berbeda, BMA juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 50 juta untuk gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bantuan tersebut disalurkan untuk meringankan beban para korban yang menimpa musibah di daerah tersebut.

Bantuan yang bersumber dari dana zakat tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Muhammad Iswanto melalui Badan Penanggulangan dan Bencana Aceh (BPBA) yang diterima langsung Kepala Pelaksana BPBA. H T Ahmad Dadek.

“Kita di Aceh selaku provinsi yang juga pernah terkena musibah bisa merasakan apa yang saudara kita rasakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat tersebut. Semoga bantuan kita dapat meringankan beban mereka,” ujar Iswanto.

Menurut Iswanto, ketika Aceh menimpa bencana Tsunami pada tahun 2004, NTB salah satu provinsi yang paling cepat mengirim bantuan untuk Aceh. Setelah terjadi Tsunami, pada hari kelima langsung tiba bantuan dari mereka.

“Banyak sekolah-sekolah di Aceh Besar yang mendapatkan bantuan dari NTB, maka kini saatnya kita juga bantu mereka,” Iswanto.

Setiap tahun BMA menganggarkan bantuan untuk korban bencana alam. Bantuan melalui senif gharimin ini diperuntukkan kepada masyarakat yang terkena musibah bencana alam seperti kebakaran, gempa, dan beberapa musibah lainnya yang membutuhkan bantuan darurat. Smh/Rel

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!