Akhlak Zakat

Gema, 26 Februari 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Bukti lain adanya pengabdian seorang muslim kepada Allah adalah menunaikan zakat, baik zakat jiwa (zakat fitrah) maupun zakat harta (zakat mal).

Oleh karenanya, layak kita mengingat kembali tentang akhlak saat menunaikan zakat.

Akhlak di sini harus dimaknai tuntunan yang melampaui kewajaran dari kewajibannya.

Pertama, menunaikan zakat dengan yang lebih baik, kuantitas maupun kualitasnya. Kadar zakat fitrah setiap jiwa memang hanya sebesar tiga liter besar (makanan pokok) dengan kualitas seperti yang dikonsumsi hari-hari, tetapi akhlak menuntun kita menjadi lebih etis dan lebih bijak dengan melebihkan takarannya dan memperbagus kualitas berasnya. Begitu juga penunaian zakat mal.

Malu rasanya bila kita perhitungan sekali atau “pelit” kepada Allah, padahal Allah jua yang senantiasa mengaruniai segalanya atas kita. Dengan demikian kita mengeluarkan zakat dengan sesempurna kebajikan dan seindah kemuliaan.

Demikian juga halnya ketika kita bersedekah, berderma, dan mengeluarkan wakaf. Di sinilah di atas kewajiban, masih ada akhlak yang akan menambah kemuliaan bagi orang yang melakukannya.

Kedua, menyegerakan pembayarannya. Meskipun zakat fitrah bisa dibayarkan jelang shalat Idul Fitri, tetapi akhlak menuntun untuk lebih bijak dan demi mempertimbangkan kemaslahatan sehingga zakat fitrah dikeluarkan dalam bulan Ramadhan, misalnya hari ke-21 sampai ke-27.

Mengapa? Agar zakat fitrah dapat disalurkan kepada yang mustahak lebih cepat, sehingga sipenerima sifakir miskin dapat merasakan kebahagiaan lebih awal dan bisa memenuhi kebutuhannya sebelum hari raya tiba.

Demikian juga penunaian zakat harta atau zakat penghasilan, diharapkan mensegerakan pembayarannya.

Oleh karena masing-masing diri harus mengetahui kapan haul sehingga zakat harta atau penghasilan dapat ditunaikan sesegera mungkin. Apalagi umumnya, zakat di tanah air lebih merupakan kesadaran pribadi dan belum ada penjemputan zakat oleh panitia.

Ketiga, merasa malu kepada Allah bila sudah mampu mengeluarkan zakat dan kehidupannya mapan tetapi juga masih menerima jatah saat pembagian zakat meskipun diizinkan oleh syariat, misalnya sebagai amil zakat mal.

Parahnya, karena salah kaprah pembagiannya, justru seorang demi seorang amil yang mendapatkan bagian jatah jauh lebih banyak daripada seorang demi seorang fakir atau miskin atau senif lainnya.

Keempat, membayarkan zakat dan wakaf pada badan atau lembaga atau pengurus yang ada, agar dapat tepat sasaran, adil, dan profesional.

Bila membagi-bagikan zakat secara langsung oleh pribadi muzaki dengan mengumpulkan banyak orang calon penerimanya dikhawatirkan terbersit lahirnya sikap riya dan ada hal-hal yang tidak diinginkan tapi bisa terjadi, misalnya berdesakan saat antri, bahkan ada yang terjatuh terinjak dan sakit atau meninggal.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!