Berbusana Sesuai Syariat Islam

GEMA JUMAT, 19 JANUARI 2018

Don’t judge a book by its cover. Pepatah itu sering pasti sering didengar, bahkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman modern sekarang, kalimat yang memiliki jangan menilai buku dari sampulnya, sering dikait-kaitkan

dengan persoalan pakaian. Terkadang, keluar ucapan, tidak penting melihat pakaiannya, yang penting hatinya. Lantas, bagaimana kalau seseorang berpakaian tidak sesuai syariat Islam?

Menurut Wakil Ketua PB Persatuan Dayah Inshafuddin , Tgk Tarmizi M Daud MAg, untuk melihat keislaman seseorang harus dilihat dari semua sisi. Mulai dari tingkah laku, itikad, cara berpakaian, pergaulan, dan pemikiran. “Bagaimana mengukur baik hatinya, syariat aja (cara berpakaian islami) tidak diindahkan,” pungkasnya kepada Gema Baiturrahman.

Paparnya, dalam fikih, cara berpakaian merupakan salah satu obyek penilaian keislaman seseorang. Sebab, cara berpakaian seseorang sudah diatur dalam Islam. Sementara syariat adalah sesuatu yang bisa diukur. Sedangkan urusan kebaikan hati seseorang hanya bisa diukur oleh Allah.

Ketentuan pakaian sesuai syariat yakni menutup aurat, baik dari warnanya, maupun bentuknya. Jangan sampai pakaian yang digunakan mengundang nafsu birahi lawan jenis si pemakainya. Mengapa persoalan pakaian sering dikaitkan dengan perempuan, karena yang banyak memakai pakaian menggoda adalah perempuan. Mengenai model pakaian, itu bukan syariat, melainkan budaya. Lebih lanjut ia mengatakan, tentang model pakaian terserah kepada si pemakainya. Modelmodel pakaian memang mengikuti perkembangan zaman. “Model hak manusia. Kalau syariat terikat kepada model, Islam itu ketinggalan nantinya,” terangnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, Islam bukan agama yang ketinggalan zaman, bukan pula mengikuti zaman. Islam sesuai dengan kebutuhan zaman.

Aurat sendiri berasal dari bahasa Arab, yakni a’wara (daya tarik). Oleh karenanya, sebagian ulama menafsirkan bahwa wajah ditutup karena mengandung daya tarik. Namun demikian, orang yang bercadar tidak boleh mengatakan tidak islami pakaian orang lain tanpa bercadar. “Di situ wilayah fi kih, tentu perbedaanperbedaan pendapat itu terjadi. Yang penting adalah menjalankan perintah Allah,” pungkasnya.

Syariat Islam bersifat dua, ilahiah dan insaniah. Ilahiah, tanda patuh kepada Allah. Kemudian agar selamat di dunia, tidak mendapatkan fitnah, serta selama di akhirat, tidak masuk ke neraka. Adakah manusia yang tidak butuh tuhan? Tentu tidak. Manusia terbatas, maka manusia membutuhkan yang tidak terbatas.

Ia membandingkan budaya barat yang identik dengan pakaian “telanjang”. Banyak sekali terjadi berbagai kasus perzinaan. Di Inggris misalnya, setiap hari lahir ratusan bayi luar nikah di rumah sakit pemerintah. “Kalau wanita berpakaian sangat islami, maka para lelaki akan segan, perempuan menjadi terlindungi,” ungkapnya.

Aturan berpakaian islami di Aceh sudah diatur dalam Qanun Nomor 11 Tahun 2002 pasal 13 dan 23 tentang fi kih jinayah. Faktanya, tidak sedikit dari masyarakat berpakaian tidak syar’i. Kata Tgk Tarmizi, seluruh pihak perlu bekerja sama menyosialisasikan, serta mendorong masyarakat berbusana islami. Selama ulama dan pemimpin, media massa sangat berperan terhadap sosialisasi ini. Tidak boleh persoalan syariat dibebankan kepada pemerintah saja.

Ia menjelaskan, tata cara berbusa sangat dipengaruhi oleh pendidikan keluarga dan lingkungan. Pemerintah hanya mampu berada sebagai perumus regulasi, sedangkan soal hati tidak. Syariat Islam diatur bagi manusia karena manusia dituntut beribadah kepada Allah. Sementara hewan tidak. Maka wajib bagi manusia menutup, sedangkan hewan tidak. Zulfurqan

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!