Bersegera Taat Pada Syria’at

GEMA JUMAT, 14 DESEMBER 2018
Oleh : Nursalmi,S.Ag
Masih sangat banyak kita menemukan kaum wanita yang memakai kain sarung atau batik sebagai pakaian sehari hari. Kain sarung tersebut sudah menjadi pakaian khas di Indonesia pada umumnya dan di Aceh khususnya. Bahkan di sekitar tahun 1960-1990-an sebagian orang menganggap tidak sopan bagi wanita yang tidak memakai kain sarung walaupun pakaian yang digunakan lebih panjang dan lebih lebar dari pada kain sarung.
Sejak beberapa tahun yang lalu mulai ngetren bagi wanita Indonesia menggunakan celana. Walaupun masyarakat mencibirnya, namun semakin lama semakin terbiasa saja, bahkan tanpa ada rasa dosa dan malu ketika menggunakan celana jeen dan leging yang super ketat. Ini sudah menjadi hal yang biasa untuk digunakan sampai kepada perempuan perempuan di pelosok desa, bahkan yang sudah menjadi nenekpun menggunakannya. Kain sarungpun dianggap menjadi pakaian ketinggalan zaman.
Semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Pemerintah Pusat  telah memberikan keistimewaan kepada Pemerintah Aceh untuk melaksanakan syariat Islam secara legal dan formal, maka mulailah diberlakukan wanita muslimah di Aceh wajib menutup aurat sesuai syari’at Islam.
Waliyatul Hisbah atau sering disebut polisi syari’at pada masa itu kerap melakukan razia di jalan jalan dan di pasar pasar. Bila kedapatan muslimah yang tidak berpakaian sesuai syar’i maka sebagian ada yang dibina, ada yang diberikan kain sarung dan kerudung, bahkan ada yang diberi sanksi dengan menggunting celana yang mereka gunakan.
Setelah itu, berangsur angsur tidak ada lagi wanita yang berani keluar ke tempat umum tanpa menggunakan kerudung. Apakah mereka menggunakannya karena kesadaran dan pemahamannya terhadap syari’at Islam ? Tentu saja belum, mereka masih menggunakannya karena takut tertangkap polisi syari’at. Sementara di tempat yang tidak ada polisi syari’at seperti di desanya, di halaman rumahnya mereka belum menutup aurat. Namun demikian lama kelamaan, berangsur angsur sudah menjadi kebiasaan dan sudah merasa risih apabila keluar rumah tanpa menutup aurat meskipun belum sempurna.
Bersamaan dengan peraturan pelaksanaan syari’at Islam diterapkan, diterjunkan juga para da’i dan da’iyah untuk mendakwahkan kewajiban melaksanakan syari’at Islam. Alhamdulillah sudah banyak yang menyadari dan memahaminya, meskipun belum seluruhnya. Pakaian syar’inya tetap belum sempurna. Masih banyak yang menggunakan celana ketat di kalangan remaja putri, bahkan tidak ketinggalan juga di kalangan ibu ibu. Apalagi saat mereka bepergian ke daerah yang tidak menerapkan syari’at Islam, kerudungnya mendadak hilang. Berarti menjalankan syari’at Islam bukan karena kesadaran dan pemahaman, melainkan karena takut kena sanksi dari pihak berwenang.
Itu baru satu bahagian dari pelaksanaan syari’at Islam. Masih banyak aturan lain yang belum dilaksanakan dan ada banyak larangan Allah yang belum ditinggalkan, seperti ; mencuri, berkhalwat dan ikhtilat bahkan sampai kepada berzina, riba dan lain sebagainya.
Mari kita melihat kembali ke zaman Rasulullah SAW. Bagaimana para sahabat dalam bersegera menjalankan syari’at Islam, tanpa banyak bertanya dan tanpa menunda nunda. Begitu Allah perintahkan bagi seluruh istri dan anak anak perempuan orang orang mukmin untuk nenutup aurat, segera mereka laksanakan. Sehingga mereka melepaskan kain kain gordennya untuk dijahitkan menjadi gamis dan kerudung. Begitu pula ketika Allah perintahkan merubah arah kiblat, dari Mesjidil Aqsha ke Mesjidil Haram, para sahabat spontan berbalik arah, padahal mereka sedang melaksanakan shalat.
Ketika Allah nengharamkan khamar, langsung mereka hentikan minum khamar, meskipun khamar sudah berada di bibir namun tetap dibuang tanpa merasa sayang. Demikian juga ketika Allah mengharamkan riba, mereka semua berhenti total dari perbuatan riba meskipun masih ada hutang yang belum dilunasi.
Sungguh berbeda pelaksanaan syari’at zaman sekarang, hijrahnya berangsur angsur, pelaksanaan syari’at Islam dilaksanakan secara pelan pelan. Kalau langsung menggunakan pakaian syar’i maka akan terasa sayang pakaian yang sudah ada tidak dipakai lagi, alasannya mubazzir. Jika tidak berhutang dengan cara riba maka tidak punya kendaraan dan tempat tinggal. Dan masih ada seribu satu alasan untuk tidak segera melaksanakan syari’at Islam.
Manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Bukan hanya ibada shalat, puasa, zakat dan haji serta zikir. Akan tetapi beribadah dengat cara taat pada seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh laranganNya. Dengan bertaqwa dan taat kepada seluruh syari’at Allah, pasti Allah tidak akan menyia nyiakan kehidupan hambaNya, pasti Allah penuhi kebutuhan hambaNya. Jangan takut meninggalkan riba, karena Allah pasti memberkahi rizkinya. Jangan ragu berpakaian syar’i, karena Allah akan memberi pahala setara bidadari. Ini hanya sebahagian contoh perintah Allah yang wajib segera kita taati dan masih banyak aturan Allah yang masih kita abaikan. Yakinlah, dengan taat kepada syari’at Allah, insya Allah kita selamat dunia dan akhirat.
comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!