Daya Tarik Kota Suci

Gema JUMAT, 2 Oktober 2015

Oleh Ahmad Faizuddin

Kota Makkah dan Ka’bah senantiasa menjadi daya tarik bagi ummat Islam. Namun menurut beberapa jama’ah, banyak perubahan terjadi di kota yang mulia ini dibandingkan 1980-an dulu.

Makkah dulu masih di kelilingi dengan bukit berbatu. Rumah penduduk bertebaran di atas bukit sekitar Masjidil Haram. Banyak kedai-kedai kecil di sekeliling masjid yang menawarkan para jama’ah berbagai macam barang dan cinderamata.

Yang menarik, cerita tentang para penjual dan pembeli di kedai-kedai tersebut. Ketika azan berkumandang semuanya meninggalkan aktivitas jual beli dan membiarkan kedai terbuka begitu saja.

Makkah sekarang sudah berubah. Rumah-rumah penduduk disekitar bukit tergantikan dengan gedung-gedung megah perhotelan untuk para jama’ah Haji. Beberapa bangunan lama diruntuhkan untuk proyek pembangunan dan pelebaran Masjidil Haram. Mungkin karena mengingat bertambahnya jumlah jama’ah setiap tahun, hal ini supaya masjid bisa menam- pung jama’ah yang banyak dan memberikan kemudahan ibadah kepada semua.

Banyak bangunan-bangunan baru untuk kemudahan beribadah. Terowongan baru dibangun untuk mengatasi sesaknya jama’ah memasuki Masjidil Haram. Ruang untuk melaksanakan thawaf kini lebih besar dan dapat dilakukan di tingkat atas. Tempat ibadah lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah pun sudah berting- kat tiga.

Yang menjadi pusat perhatian tentu saja Ka’bah yang mulia. Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. bersama putranya Nabi Ismail a.s. Dinamakan dengan Ka’bah karena bangunannya yang bersegi empat. Dalam bahasa Arab, rumah bersegi empat biasanya dinamakan dengan Ka’bah.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Fiil (105:1–5) Allah SWT menceritakan tentang burung-burung Ababil yang menghancurkan pasukan bergajah. Raja Najasi bernama Abrahah dari negeri Habasyah menyerbu Makkah dan berusaha meruntuhkan Ka’bah, namun Allah menggagalkan rencana mereka.

Allah SWT berfirman, “Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadya, dan qalaid. Allah menjadikan yang demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesugguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesugguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Al-Maidah 5:97).

Adapun yang dimaksudkan dengan pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia adalah Ka’bah. Sekitarnya menjadi tempat yang aman bagi manusia untuk mengerjakan urusan- urusan duniawi dan ukhrawi. Sementara itu, bulan haram adalah bulan-bulan yang dilarang melakukan peperangan di dalamnya, yaitu bulan Zulka’dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.

Hadya adalah binatang- binatang yang dibawa ke Ka’bah untuk disembelih di tanah haram dalam rangka ibadah haji dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin. Biasanya berupa unta, lembu, kambing atau biri-biri. Adapun qalaid maksudnya binatang hadya yang sudah ditandai dengan kalung supaya orang mengetahui, bahwa binatang tersebut diperuntukkan untuk dibawa ke Ka’bah. Dengan penyembelihan tersebut, orang yang berqurban mendapat pahala yang besar dan fakir miskin mendapat kesenangan dari daging-daging sembelihan yang diperolehnya.

Di Ka’bah ada sebuah batu bernama Hajar al- Aswad. Secara bahasa ia berarti ‘Batu Hitam’. Hukum mencium Hajar al-Aswad ini sunat pada permulaan tawaf. Dalam sebuah hadits riwayat dari Imam Al-Turmuzi diceritakan, bahwa Hajar al-Aswad akan menjadi saksi di akhirat kelak bagi mereka yang menciumnya dengan kebenaran.

Hal ini berarti belum tentu orang yang mencium Hajar al-Aswad akan memperoleh syafa’at di Hari Akhirat. Karena boleh jadi ia melakukannya dengan menyakiti jama’ah yang lain untuk mencium Hajar al-Aswad.

Semoga pesona tanah suci ini senantiasa kita nikmati sampai akhir zaman. Semoga jama’ah haji yang menunaikan ibadah di dalamnya mendapatkan gelar mabrur dan semoga ummat Islam yang belum menunaikan haji mendapatkan kesempatan mengunjungi tempat yang penuh berkah ini. Wallahu a’lam.

Penulis, mahasiswa pro- gram Doctoral di Kulliyyah of Education, Educational Management and Leader- ship, International Islamic University Malaysia (IIUM).

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!