Doktrin Agama Menafasi Budaya Aceh

GEMA JUMAT, 3 AGUSTUS 2018

Oleh : Ampuh Devayan

Tidak bisa dipungkiri bahwa doktrin agama Islam telah menafasi karya-karya seni dan sastra di Aceh. Hal ini menggambarkan adanya jalinan erat seni di Aceh dengan budaya lokal kelompok penyebarnya. Kelompok penyebar ini tidak berdiri sendiri.

Budaya Gujarat dan Persia merupakan dua budaya yang walaupun mengalami proses inkorporasi dengan Islam yang pro-hanif (kedamaian, kepasrahan) dan tauhid (keesaan). Dalam buku Living Traditions of India; Crafts of Gujarat (1985), ditulis bentuk-bentuk tempaan seni Aceh baik kraftangan, alat musik dan arsitektur ternyata memiliki hubungan paradigmatik dengan lingkungan Gujarat. Gunongan yang berada di Banda Aceh masih mengambil filosofi Hindu-Budha sebagai pusat alam semesta (Barbara Leight, Hands of Time:The Crafts of Acheh, 1987).

Lipatan-lipatan bangunan yang menyerupai kelopak bunga teratai menunjukkan pengaruh pra-Islam telah diakomodir oleh penguasa kerajaan Aceh. Bentuk makam kuno yang berada di Geudong, Aceh Utara, Banda Aceh, dan Aceh Besar dibentuk dengan pola simetris dan menyerupai bangunan-bangunan kuil di kerajaan Mongol, India.

Ada bentuk sulaman, perhiasan gelang tangan dan kaki, serta ikat pinggang pengantin perempuan juga memiliki corak dan bentuk yang hampir sama pula. Namun dalam desain gambar, hasil tenunan Aceh telah menghilangkan bentuk-bentuk binatang, dan menggantikannya. dengan gambar bunga, buah-buahan atau mengulangi arabesque dan olahan geometric. Jelas pengaruh Islam secara ekstrim dan eksesif turur berperan.

Bukan mustahil raja-raja Aceh di abad 17 sengaja menjadikan bangunan-bangunan seperti ini sebagai simbol kewibawaan dan kehormatan, serta menganggap lingkup kerajaannya sebagai pusat kekuasaan semesta.

Kita juga melihat bagaimana teks sastra menjadi media dakwah dan pengetahuan yang dapat membangun moralitas individu dan sosial masyarakat. Puisi dan prosa menjadi medium ketika menyampaikan pengetahuan yang berhubungan dengan moralitas individu, etika politik, masalah eskatis dan secara luas perspektif genostik yang hidup dalam sejarah manusia.

Puisi sufi Persia merupakan kristalisasi hasil budaya yang paling berpengaruh dan mengagumkan sampai sekarang. Tak ada ungkapan yang lebih berdentang dari budaya Persia yang dimiliki dunia melebihi puisi periode tersebut.

Dari Aceh, syair Hamzah al-Fanzury dapat dikatakan yang terbaik dan tak mudah tertandingi oleh penyair yang sezaman dengannya yang juga menggunakan bahasa Melayu pase sebagai olah sastra. Di antara cendekiawan dan sastrawan yang mengkonsentrasikan diri dan terikat dalam “klecamuk proses karya” syair-syair al-Fanzury, boleh disebut Prof A Teeuw, Prof Brakal Henk Maier, Prof Ali Hasjmy, Amir Hamzah, Sutardji Chalzoum Bachri, dan Abdul Hadi WM.

Selain itu, perlu diakui juga bahwa adat  merupakan bagian dari budaya Aceh itu sendiri. Seperti Keunduri dan peusijeuk (tepung tawar, dalam istilah Melayu)  merupakan ritual memohon keharmonisan, kesejukan, terutama bagi yang melaksanakan perayaan. Ritual ini hampir sama dalam ekaristi agama Hindu yang bertujuan untuk mengambil hati para dewa-dewi agar ia tidak sesuka hati menurunkan murkanya kepada penduduk bumi, dijaga keselamatan panen hasil bumi dari gangguan hewan ataupun roh jahat.

Peusijeuk juga menjadi inti gemuruh perayaan adat. Mulai membangun rumah, acara sunatan, aqiqah, perpisahan hingga penyambutan jemaah haji yang baru kembali dari tanah suci. Peusijeuk menjadi lambang kerukunan, keharmonisan, keseimbangan spiritual, dan kerelaan.

Biasanya alat-alat peusijeuk terbuat dari kuningan, antara lain mundam (kendi kecil), tabsi (talam besar) calok (tempat air), dan batee ranup (tempat sirih). Bentuk-bentuk kraftangan yang dibuat mengisyaratkan sebagian pesan-pesan mistis spiritual yang hidup dalam masyarakat Aceh. (***)

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!