Gubernur Aceh Minta Pemerintah Tingkatkan Pelayanan Publik

Gema JUMAT, 5 Februari 2016

Banda aceh (Gema) – Gubernur Aceh, dr H. Zaini Abdullah meminta instansi pemerintah meningkatkan pelayanan publik. Hal itu dikatakan Doto Zaini, saat memberi arahan dalam penyerahan penghargaan kepada 15 instansi yang dinilai Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Aceh, berkinerja baik dalam melayani publik sepanjang tahun 2015.

Doto Zaini berharap penghargaan tersebut bisa menjadi pendorong bagi jajaran pemerintahan di Aceh agar terpacu untuk terus meningkatkan pelayanan publik, Selasa (2/2).

Pengawasan layanan publik oleh Ombudsman atas lembaga pemerintahan, BUMN dan swasta, diapresiasi oleh Gubernur Aceh. “Apresiasi saya sebagai kepala Pemerintahan Aceh kepada Ombudsman yang telah menilai dan memberi penghargaan kepada lembaga pemerintahan yang dianggap telah menjalankan pelayanan publik dengan baik,” kata Gubernur.

Kualitas pelayanan publik, kata gubernur, merupakan tolak ukur dalam menilai keberhasilan program reformasi birokrasi yang dilaksanakan Pemerintah. Pihak yang paling berwenang menilai dan mengawasi hal itu adalah Ombudsman.

“Dalam menjalankan tugasnya, Ombudsman memiliki kewenangan memeriksa, meminta klarifikasi, melakukan supervisi, dan bahkan memanggil aparat pemerintah yang diduga melakukan kesalahan dalam pelayanan publik,” kata Gubernur Zaini. Dengan kewenangan itu, peran Ombudsman sangatlah strategis dalam mendorong terciptanya tata pemerintahan yang baik.

“Saya sendiri akan senantiasa memperhatikan hasil evaluasi Ombudsman Aceh terkait kinerja SKPA di daerah ini, sebab saya percaya, evaluasi Ombusdman sangat independen dan rekomendasinya bebas dari kepentingan apapun, selain kepentingan rakyat,” ujar Gubernur Zaini.

“Berkat penilaian itu, kini SKPA dan SKPK semakin terpacu meningkatkan kinerjanya. Jika Ombudsman Aceh kembali melakukan penilaian yang sama untuk kategori tersebut tahun ini, bisa jadi akan banyak lagi lembaga SKPA dan SKPK yang berada pada zona hijau dalam hal pelayanan publik,”

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah memberikan penghargaan kepatuhan dari Ombudsman kepada pemerintah Kota Banda Aceh sebagai terlapor responsif untuk Pemerintah Daerah yang diterima Wakil Walikota, Zainal Arifin di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah, Banda Aceh, Selasa 2 Februari 2016.

Ketua Ombudsman Aceh, Taqwaddin Husin menyebutkan, ke 15 instansi tersebut memperoleh penghargaan atas kinerja baik dalam melayani publik sepanjang tahun 2015. “Kami memberi apresiasi karena kerja keras atas pemberian pelayanan publik yang sangat baik sepanjang tahun lalu,” kata Taqwaddin.

Ke 15 instansi tersebut adalah Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Pemerintah Provinsi Aceh, Dinas Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Banda Aceh, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh, Dinas Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Aceh Barat, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Aceh Bara, dan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu satu Pintu Aceh Tenga.

Selanjutnya Kantor Imigrasi Klas I Banda Aceh dalam Pelayanan Penerbitan Paspor Baru, Kantor Pertahanan Kota Banda Aceh pada Pelayanan Sertifikasi Baru, Polres Aceh Tengah pada Pelayanan SIM. PT. Telkom (BUMN) sebagai terlapor responsif, Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai terlapor responsif untuk Pemerintah Daerah, KoBar GB mewakili lembaga sebagai Pelapor Aktif, dan Harian Rakyat Aceh mewakili media sebagai media peduli pelayanan publik.

Taqwaddin menyebutkan, pemerintah sebagai penyelenggara utama pelayanan publik perlu diawasi. Ombudsman punya fungsi mengawasi kinerja tersebut. Hal itu merupakan tindak lanjut dari fungsi implementasi.

“Tugas kita untuk mengawasi, sebagaimana menjadi tugas utama bagi pemerintah untuk melindungi rakyat Indonesia,” katanya. Ia menyebutkan, Pemerintah dibentuk untuk menyejahterakan masyarakat umum dan mencerdaskan bangsa.

Dalam penyerahan penghargaan tersebut, Ombudsman lebih menyorot kepada layanan publik berupa pelayanan izin. Karena, kata Taqwaddin, persoalan perizinan dinilai sangat rawan korupsi. “Pada tahun 2015 kita melakukan survey di bagian perizinan. Kita melakukan investasi yang tidak terlalu terbuka,” kata Taqwaddin.

Investigasi Ombudsman tersebut, oleh Gubernur Aceh dinilai sebagai bentuk tolak ukur untuk menilai kesiapan lembaga publik Aceh dalam hal Pelayanan perizininan. “Saya sudah berkali-kali mengimbau agar masalah izin dipermudah. Jangan ada lagi birokrasi yang berbelit-belit, apalagi ada pungutan liar,” kata Gubernur. Sejumlah wilayah di Aceh, kata Gubernur juga telah lama menerapkan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk urusan perizinan.

Sertifikasi Asean Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, mengharapkan masyarakat Aceh harus mempunyai sertifikasi Asean agar mampu bersaing di tingkat Asean. Hal tersebut untuk menyongsong pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal tersebut dikatakan Gubernur Zaini dalam sambutan yang dibacakan Asisten III Setda Aceh, Syahrul Badruddin SE, M.Si saat Deklarasi dan Pengukuhan Pengurus DPD Asttatindo Aceh, periode 2016-2021, di aula Sultan Selim II, baru-baru ini.

Gubernur memandang, Asttatindo punya peran penting dalam pembangunan di Aceh. Yaitu melatih dan menghadirkan tenaga ahli dan terampil serta bersertifikasi dalam bidang kontruksi. Dengan adanya sertifikat tersebut, peluang insinyur dan arsitek Indonesia, khususnya Aceh akan lebih terbuka untuk bersaing di Negara-negara Asean. “Kita butuh kesiapan SDM yang andal,” ujar Syahrul.

Aktivitas pembangunan di Aceh saat ini pun, kata Syahrul cukup tinggi. Sebagai asosiasi yang melatih tenaga ahli di bidang kontruksi, Asttatindo diharapkan bisa melatih masyarakat Aceh sehingga mempunyai sertifikasi yang bahkan diakui hingga di tingkat Asean. “Akan sangat bermanfaat jika proyekproyek di Aceh dikerjakan oleh putra-putri Aceh yang memiliki keahlian dan ketrampilan di bidang kontruksi,” kata Syahrul.

Pemerintah Aceh, membuka diri kepada asosiasiasosiasi yang mau bekerjasama membina anak muda. Apalagi, saat ini pemerintah sedang menggalakkan aktivitas di Balai Latihan Kerja untuk melatih para remaja agar memiliki keahlian, khususnya pada bidang konstruksi. Keberadaan Asttatindo diharapkan dapat memperkuat program tersebut, sehingga banyak pekerja terampil dan Aceh tak perlu lagi mendatangkan pekerja dari luar. (Sayed/Humas)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!