GUBERNUR LETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN GEDUNG DINAS SYARIAT ISLAM

Jum’at, 01 Juli 2016

Banda Aceh (Gema) – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Induk Kantor Dinas Syariat Aceh, di Komplek Keistimewaan Aceh, (28/6).

Peletakan batu pertama itu dilaksanakan sebelum acara berbuka bersama di lingkungan Dinas Syariat Islam. Selain itu, Gubernur juga menandatangani prasasti dimulainya pembangunan gedung tersebut.

Dalam sambutannya, Zaini berharap kehadiran gedung baru itu nantinya dapat memicu semangat Dinas Syariat Islam untuk meningkatkan kinerja dalam upaya penerapan syariat Islam kaffah.

Zaini mengatakan, penguatan dan pelaksanaan syariat Islam akan tetap menjadi prioritas Pemerintah Aceh kedepan.

“Sejak syariat Islam diberlakukan di Aceh, telah banyak capaian-capaian yang sudah kita raih, seperti peraturan perundang-undangan yang menjadi perangkat hukum terkait penerapan syariat Islam,” kata Zaini.

Saat ini kata Zaini, tidak kurang 15 qanun tentang syariat Islam sudah disahkan. Disamping itu, beberapa instruksi dan peraturan gubernur terkait dengan penguatan pelaksanaan syariat Islam juga sudah dikeluarkan.

Pada kesempatan tersebut, Zaini juga berharap Dinas Syariat Islam Aceh terus berbenah, dengan meningkatkan kapasitas seluruh jajarannya.

Sementara Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Prof Dr Syahrizal Abbas MA mengatakan, setelah musibah tsunami melanda Aceh, Gedung Dinas Syariat Islam yang lama mengalami kerusakan, akibatnya gedung tersebut sudah tidak kokoh lagi.

Untuk itu kata Syahrizal,  pembangunan gedung induk yang baru sangat diperlukan untuk menunjang aktivitas dan kinerja Dinas Syariat Islam.

“Untuk sementara waktu, pegawai dipindahkan ke gedung yang lain sambil menunggu gedung yang baru selesai dibangun,” ujar Syahrizal.

Untuk tahap pertama, pemerintah menganggarkan dana senilai dua milyar rupiah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) tahun 2016. Gedung tersebut diharapkan selesai dan bisa digunakan pada 2018.

Dinas Syariat Islam menghibahkan sisa bongkaran bangunan yang masih bernilai kepada tiga lembaga pendidikan Islam yaitu, Ma’had Darul Tahfidzul Quran, Balai Pendidikan Islam Dayah Liwaul Mukhlisin dan Lembaga Dakwah Aceh Serambi Mekkah.

Apresiasi ulama

 

Para ulama Aceh memberi apresiasi atas kinerja Pemerintah Aceh di bawah pimpinan Gubernur Zaini Abdullah. Ulama menilai pemerintahan saat ini sangat peduli dengan pendidikan agama, baik di pesantren maupun di dayah tradisional. Mewakili ulama, Waled Nurzahri berterima kasih kepada gubernur karena pemerintah dinilai peduli dengan keberlangsungan syariat Islam di Aceh.

 

Salah satu keberhasilan pemerintah, tutur Waled Nu, sapaan Waled Nurzahri, mensyariahkan bank konvensional menjadi bank syariah.  “Gubernur juga membuat Masjid Baiturrahman serupa dengan di Madinah dengan membangun payung yang megah,” ujar Waled Nu.

Kepedulian pemerintah lainnya ditunjukkan dengan memberi respon langsung terhadap musibah yang menimpa Pesantren Darussalam di Labuhan Haji Aceh Selatan.

“Kepedulian pemerintah untuk keberlangsungan syariat Islam dan pendidikan keagamaan tentunya punya tujuan untuk meningkatkan martabat orang Aceh,” ujar Waled Nu.

Sementara Zaini Abdullah, menyebutkan sebagai pucuk pimpinan Pemerintah Aceh, dirinya orang yang diberi kepercayaan termasuk oleh para ulama  untuk mengabdi kepada masyarakat Aceh. “Saya bangga  masih bisa berada di tengah-tengah para ulama,” ujar gubernur.

Peran ulama, kata gubernur, adalah penggerak dan pemikir dalam bumi Aceh. Para ulama haruslah sejalan beriring dengan umara dalam menjalankan program kesejahteraan masyarakat.

Zaini melaporkan, penerapan syariat Islam di Aceh semakin nampak dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam 16 tahun sejak syariat Islam diberlakukan di Aceh, tak kurang 15 qanun terkait syariat Islam disahkan. Pemerintah juga terus menggiatkan program untuk memajukan pendidikan dayah.

Menanggapi musibah kebakaran yang meludeskan 150 bilik Dayah Darussalam Labuhan Haji, gubernur telah memerintahkan semua pihak untuk membantu agar pembangunan bilik-bilik tersebut bisa cepat terlaksana. Sebagai salah satu tempat bersejarah di Aceh, Zaini menyayangkan kejadian tersebut. Apalagi diketahui banyak kitab-kitab yang ikut terbakar. “Kerugian terbesar adalah terbakarnya kitab-kitab,” ujarnya. Sayed Husen/Humas

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!