Hadir Untuk Pemersatu Umat

GEMA JUMAT, 15 SEPTEMBER 2017

SYUKUR Alhamdulillah Tabloid “Gema Baiturrahman” telah berusia 24 tahun. Tahun depan sudah seperempat abad. Gema hadir di tengah-tengah umat dengan tujuan yang sangat mulia, yakni menjalin

ukhuwah antar jamaah, menuju Islam sempurna (kaffah) dan mencerdaskan pemikiran umat Islam, membuka cakrawala berpikir. Gema adalah media pencerahan, bukan penjumudan (pembodohan, tertutup akal) Gema Baiturrahman tetap bijak dalam membaca dinamika umat. Gema Baiturrahman selalu menjadi penawar dan pendingin suasana. Jika ada gesekan umat mengenai hal-hal khilafiah, Gema berusaha meredam, bukan memanas-manasi. Kami tidak mau masuk dalam arus gelombang

yang bisa membawa mudharat. Pesatuan umat lebih penting di atas segalanya. Kami selalu berusaha agar masjid ini (Baiturrahman) menjadi masjid semua umat Islam, bukan masjid eklusif hanya digunakan oleh satu pihak saja.

Sebagai sebuah masjid besar yang punya nama mendunia, masjid ini harus sejuk lahir batin,tidak boleh ada kekerasan di sini, tidak boleh saling menohok sesama muslim. Semua mazhab boleh shalat di sini, asal tidak keluar dari aqidah yang benar. “Ini masjid ibukota Aceh,maka harus elastis, jangan terlalu kaku”. Pemikiran tersebut dipesan kepada kami oleh Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman waktu itu, Almarhum Tgk. H. Soufyan Hamzah. Imam Besar sekarang, Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA juga berpesan demikian.

Di awal kelahirannya, Gema diasuh oleh Pengurus Remaja Masjid Raya saat itu. Kita tak bisa melupakan nama-nama, Ameer Hamzah (Ketua Pengarah) H. Basri A Bakar, (Ketua Sidang Redaksi), Para Redaktur: H. Jakfar Puteh, Mahlil Idham, Ridwan Johan, Sayed Muhammad Husen, M. Nur AR, Sadri Ondang Jaya, Hilmi Hasballah, Fairuz M. Nur, Aiyub, Firman, Murizal Hamzah, Ustad Yahya AR, Ustad Zaini, NA Rya Ison, Iswadi Yasin, Nora Faulina, Nur Fajri Fahmi, Nadiatul Hikmah, Nurbaiti, Nurjannah Usman, dan sejumlah sahabat (wartawan) yang lain yang turut mengasuh dan membesarkan nama Gema Baiturrahman. Setelah reformasi, istilah Ketua Pengarah diganti dengan Pemimpin Umum, dan Ketua Sidang Redaksi menjadi Pemimpin Redaksi.

Perlu dicatat, sebelum Gema Baiturrahman hadir, juga sudah pernah terbit “Koran Media Baiturrahman” bukan tabloid. Koran yang berukuran besar itu dipimpin oleh H. Bakri Usman dan Basri A Bakar. Koran itu cuma terbit dua edisi. Kemudian tutup. Gema Baiturrahman bukanlah ingkarnasi dari Koran Media Baiturrahman. Gema adalah tabloid, sedangkan Media Baiturrahman adalah bentuk koran. Dan Gema tidak mewarisi apapun dari Media Baiturrahman.

Dalam perjalanan panjang Gema Baiturrahman, berbagai tantangan menghadang di depan. Berkali-kali “Gema” kehabisan nafas, jatuh bangun dan jatuh lagi. Gema juga tidak terbit hanya satu edisi Jumat setelah Gempa dan Tsunami 2004. Kantor Gema pun tidak bisa digunakan. Banyak alat kantor yang rusak, tidak bisa digunakan lagi. Tantangan lain adalah, masalah ongkos cetak. Kami tidak malu-malu menghadap Gubernur Aceh supaya ditanggulangi dana. Syukur, sekarang dana ongkos cetak telah ditanggung oleh Masjid Raya Baiturrahman. Dengan demikian nafas Gema menjadi lega. Insya Allah Gema tetap menjenguk pembacaya setiap pagi Jumat. Silakan membacanya lebih awal, sebelum khatib naik mimbar. Jangan membaca jika khatib sedang berkhutbah. Gema sebaiknya dibawa pulang dan disimpan. Rubrikrubrik di Gema itu semua bermanfaat, terutama isi khutbah. Dirgahayu Gema. Semoga panjang umur.[Ameer Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!