Hikmah Menjaga Kebersihan

GEMA JUMAT, 2 AGUSTUS 2019

Seorang muslim sangat dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri, baik kebersihan lahir dan batin. Pedoman sunnah yang diajarkan Muhammad SAW untuk senantiasa menjaga wudhu’ merupakan perintah nyata dari Islam, agar umatnya menjadi umat yang bersih. Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin seperti yang dikutip Buya Hamka dalam buku Pandangan Hidup Muslim menerangkan hikmah berwudhu’, mulai dari membasuh muka, membasuh kedua belah tangan, menyapu kepala dan membasuh kaki.

Menurut Imam Al-Ghazali, Hikmah membasuh muka yang sekurangnya lima kali sehari itu bukan saja mengenai kebersihan lahir, bahkan ada juga batinnya, yaitu ada kemungkinan mata melihat yang merusakkan ketenteraman jiwa atau mulut bercakap yang tidak bertanggungjawab. Dengan muka menghubungkan pribadi kita dengan masyarakat disekeliling kita. Sebab itu, basuhlah ia supaya bersih kembali. Membasuh tangan, mungkin tadi memegang yang membahayakan iman. Menyapu ubun-ubun, mungkin kita memikirkan soal yang tidak beres. Demikian seterusnya, membasuh kaki, mungkin entah langkah kaki tidak mempunyai perhitungan.

Hikmah yang disebut Imam Al-Ghazali merupakan pembersihan lahir-batin yang akan berimplikasi pada bekas wudhu’ bagi hubungan pribadi dengan masyarakat dan lingkungan. Apabila diri sudah bersih, maka hati ini merasa tidak nyaman apabila melihat bale, meunasah dan masjid yang tidak bersih. Inilah konsekuensi logis dan hikmah menjaga kebersihan.

Begitupun pada hari Jum’at Allah SWT memerintahkan kita agar datang ke masjid dengan serba bersih, rapi, menggunakan pakaian terbaik, serta dianjurkan menggunakan parfum, merupakan dimensi Islam yang mencintai nilai estetika dan kebersihan agar membawa kenyaman pada orang di sekitar kita.

Setidaknya dalam hikmah menjaga kebersihan terdapat beberapa keutamaan, di antaranya: Pertama, menaati perintah Allah SWT. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR Tirmizi).

Kedua, menjalankan sunnah Rasul. Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan pola hidup bersih kepada manusia, misalnya anjuran bersiwak untuk kebersihan mulut dan gigi, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berkata:  Rasulullah SAW bersabda: Jika aku tidak menjadikan berat umatku, maka sungguh aku perintahkan bersiwak (menggosok gigi) setiap hendak shalat”. (HR Bukhari).

Ketiga, membuat lebih nyaman dalam bergaul. Seorang yang menjaga kebersihan tubuhnya akan membuat orang lain lebih nyaman ketika berkomunikasi atau bergaul dengan orang tersebut, sehingga pergaulan pun berjalan dengan lebih nyaman.

Berdasarkan ulasan tentang hikmah dan keutamaan dalam menjaga kebersihan akan terwujud pula kebersihan akhlak, yang sangat berpengaruh dalam menjaga lingkungan. Hari ini, apabila kita membaca berita-berita di media massa, banyak sekali hewan di lautan yang mati akibat mengonsumsi sampah manusia yang dibuang sembarangan di lautan. Maka sebuah keharusan bagi setiap muslim senantiasa memiliki akhlak yang berwawasan kebersihan lingkungan, agar keberlangsungan alam berjalan dengan lestari, sehingga peranan umat Islam sebagai uswatun hasanah (contoh keteladanan) dapat dirasakan oleh  manusia dan  alam semesta. Muhammad Ikhsan RZ

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!