Gema, 19 Februari 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Akhlak di sini dipahami sebagai kondisi psikologis yang menyembul dan terkukuhkan dalam perilaku keseharian seorang muslim.

Oleh karena itu, terdapat perilaku praktis yang berhubungan dengan Rabbnya, dirinya sendiri, sesama, dan lingkungan sekitarnya.

Perilaku amaliah praktis keempat sisi tersebut menjadi sangat penting karena dapat berpengaruh secara langsung terhadap kualitas religiusitas dan keimanan seseorang.

Saat berhasil mengukuhkan akhlak yang baik dalam kehidupan berarti secara otomatis akan turut mempertembal keimanannya. Dan sebaliknya perilaku buruk dan dosa hanya akan mengerdilkan imannya.

Kita memulai pada ranah akhlak kepada Allah, yaitu saat berikrar terutama ikrar syahadatain. Ikrar ini berbunyi asyhadu anla ilaha illa allah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Di samping sebagai penanda utama dan pertama kemusliman seseorang, Ikrar ini dilafalkan bahkan berulang-ulang untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan shalat, juga untuk memperbaharui iman dan dilafalkan untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Terdapat tuntunan populis saat berikrar. Pertama, melafalkannya dengan sepenuh hati dan kesadaran insani, bahwa kesaksian tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu rasul utusanNya merupakan kesaksian tulus dan kuat terhunjam di hati sanubari yang harus mewujud dalam perilaku hidupnya.

Inilah mengapa orang yang melafalkan ikrar ini dijamin masuk surga, hidup bahagia, baik di dunia maupun akhiratnya.

Kedua, saat melafalkan ikrar dilakukannya sopan, jelas, khusyuk, tawadhuk, dan pandangan juga wajah penuh kelembutan.

Mengapa?

Karena kita sangat kecil dan sangat lemah berhadapan bahkan bersimpuh di haribaan Allah Zat segala maha dan Rasul pilihanNya yang telah menunjuki manusia pada jalan kebenaran dan takwa.

Oleh karenanya, saat berikrar atau bersaksi jauh dari sikap arogan, merasa hebat, dan merasa bisa berbuat apa saja.

Ketika, memahami isi kandungan atas segala yang diikrarkan, diinternalisasi, direnung-renungkan dan dihayati, serta diistiqamahi dalam perilaku nyata.

Etika ikrar seperti gambaran di atas lazim juga diperluas dan diharapkan juga berlaku pada ikrar-ikrar lainnya, ikrar iftitah dalam shalat yang kita lakukan, ikrar berserekat, berorganisasi, menjadi pegawai negeri dan lain sebagainya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!