Indahnya Cahaya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Yaumul Bidh Ke-3, Kamis 15 Zulkaidah 1440

Saudaraku, saat ini mengapa tuan puan bisa membaca tulisan ini? Ya tentu di antaranya karena masih dianugrahi oleh Allah umur panjang, kesehatan lahir batin, dan kesempatan. Dan masih banyak karunia lainnya, tetapi yang jelas di antaranya juga karena ada cahaya, cahaya di hp dan sekelilingnya. Untuk ini tema muhasabah hari ini kita akan mensyukuri cahaya dan keindahannya.

Ya cahaya sebagai ciptaan Allah memang sarat makna. Allah menciptakan cahaya bagi kehidupan seluruh makhlukNya, baik cahaya itu yang bersumber dari dirinya sendiri seperti matahari dan api maupun yang memantulkannya seperti melalui bintang-bintang di langit, dan rembulan. Di samping itu juga atas anugrahNya yang tercurah kepada orang-orang yang sukses menciptakan peralatan dan sistem pelistrikan yang dapat menghidupkan aneka ragam lampu sehingga penuh cahaya warna warni di mana-mana atas jangkauannya.

Kita tidak bisa membayangkan, bila hidup ini malam dan gelap terus menerus tidak ada cahaya sedikitpun. Niscaya hanya makhluk malam saja seperti kelelawar dan hantu yang dapat berkeliaran ke mana-mana untuk cari mangsa. Manusia yang notabene makhluk siang hari sangat bergantung pada keberadaan cahaya, juga listrik dan lampu.

Realitas yang ada di alam ini, terdapat gambaran yang nyata akan adanya cahaya dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar. Ada kunang-kunang di malam hari yang cahayanya sangat kecil tetapi sudah cukup bermanfaat untuk menyatakan kehadirannya dan menghibur saya dulu dan anak-anak desa lainnya sebisanya. Ada lampu sangat kecil yang cahayanya mencukupi untuk kenyamanan manusia beristirahat malam harinya. Ada lampu 2,5 watt atau 5 watt, yang cahayanya sudah sangat memadahi bagi orang-orang yang belajar di ruang kerjanya. Terdapat lampu merkuri yang cahayanya meluas bahkan menerangi radius tertentu di jalan raya atau taman-taman kota. Di angkasa juga ada bintang-bintang bergemerlapan yang cahayanya menjadi petunjuk para nelayan atau pekerja lainnya, ada rembulan yang cahayanya menerangi keindahan saat malam tiba, apalagi tadi malam sesempurna purnama sehingga hari ini sunah puasa yaumul bidh ketiga. Di siang hari ada sang surya atau Matahari yang cahayanya menyelimuti seluruh bumi tanpa mengharap kembali, memberi kemanfaatan pada seluruh eksistensi.

Saudaraku, semua cahaya yang telah disebut adalah makhluk alias ciptaan Allah baik langsung atau tidak langsung. Maka di atas segala cahaya, terdapat Sang Pemilik Cahaya, Zat Pencipta Cahaya, bahkan Maha Cahaya itu sendiri, Allah Al-Nuur, yang tentu cahayaNya maha sempurna dan maha meliputi.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Qs. Al-Nur 35)

Di ayat lain Allah berfirman Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (Qs. Al-Furqan 61)

Dalam pandangan makhluk di bumi, bahwa langit itu gelap, kecuali padanya bersinarnya matahari, bercahayanya rembulan dan bintang-bintang serta bercahayanya lampu-lampu, kembang api yang sengaja dilesatkan ke sana sehingga sesaat terang berkilauan.

Dengan keberadaan cahaya dapat menerangi bumi sehingga manusia dapat menyempurnakan peran dan amaliah untuk kehidupannya di bumi ini. Inilah ibrah berharga yang terkandung dalam filsafat cahaya. Ya, filsafat cahaya, cahaya yang senantiasa menerangi, memberi kemanfaatan menghidupkan suasana, memberi inspirasi kehidupan. Ibrahnya mengingatkan kita semua bahwa keberadaan hidup sejati di dunia ini adalah ketika bisa memberi kemanfaatan, berbagi, penebar kemaslahatan, penyemai kebajikan dan menghangatkan suasana. Oleh karenanya logika mafhum mukhalafahnya dapat dinyatakan bahwa seseorang yang meskipun masih bernafas dan berjalan-jalan di muka bumi ini namun tidak mampu memberi manfaat dan tidak mau berbagi, maka sejatinya ia telah mati sebelum mati.

Karena Allah juga sebagai Al-Nur, maka Allah maha pemberi kemanfaatan. Di sinilah Al-Nur berpadu dengan Al-Naafi’u. Al-Naafi’u secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha pemberi manfaat kepada hamba-hambaNya. Allahlah zat yang maha mendatangkan kebaikan bagi hamba-hambaNya atas segala sesuatu.

Allah berfirman yang artinya, Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Fath 11)

Dengan diciptakannya cahaya dan keberadaan Allah sebagai Al-Nuur dan Al-Naafi’u maka kita layak mensyukuriNya, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah zat yang maha suci, cahayanya menerangi, memberikan manfaat kepada makhlukNya dan kepada sesiapapun yang dikehendakiNya. Allah juga pemberi hidayah kepada kita, sehingga kehadiran kita mendatangkan manfaat sebesar-besarnya untuk kehidupan di bumi.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya memperbanyak memuji menyebut asmaNya seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan banyak menyebutNya, semoga Allah menganugrahi hati yang suci sehingga memantulkan cahayaNya, memberikan kemanfaatan kepada siapapun dan apapun yang dianugrahkan kepada kita.

Ketiga mensyukuri secara konkret dalam bentuk perbuatan hari-hari dengan terus memelihara kesucian hati sehingga mampu memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya makhluk dalam kehidupan ini. Dan hidup itu memberi, memberi manfaat, memberi rahmat, memberi kesejukan, memberi solusi, memberi bantuan, memberi pengayoman, memberi kemudahan, memberi dan berbagi kebahagiaan kepada sesamanya. Di sinilah pesan Nabi Muhammad saw mesti diingat khairunnas anfa’uhum linnas.

Oleh karenanya dzikir penerang hati penjemput hidayah Allah agar hati bercahaya sehingga bahagia mampu menerangi kehidupan seluas-luasnya adalah membasahi lisan dengan ya Allah ya Nuur, ya Allah ya Naafi’u, Allah ya Nuur, ya Allah ya Naafi’u, Allah ya Nuur, ya Allah ya Naafi’u… dan seterusnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!