Jangan Lupa Berterima Kasih

GEMA JUMAT, 21 DESEMBER 2018

Oleh: Hayatullah Pasee

Pada satu kesempatan penulis pernah ikut rombongan sebuah lembaga bergerak di bidang sosial untuk menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran. Ikut serta dalam rombongan tersebut ketua lembaga dan salah seorang tokoh yang sedang berjuang menuju kursi parlemen tingkat provinsi.

Penulis selaku fotografer yang mendokumentasi kegiatan tersebut mengabadikan setiap momen seperti ketika rombongan baru tiba, meninjau, hingga penyerahan bantuan kepada korban. Sang tokoh yang ikut tersebut sebenarnya bukan bagian dari lembaga tersebut, hanya saja ingin pergi bersamaan dengan lembaga sosial tersebut.

Penulis tak begitu mengenal tokoh tersebut, lantaran hadir dalam kegiatan penyerahan bantuan tersebut, maka ia juga tampak dalam beberapa foto. Penulis mendekati sang tokoh untuk meminta email dan kontak WhatsApp untuk mengirim foto tersebut kepadanya.

Beberapa menit kemudian penulis mengirimkan foto-foto tersebut. Saat itu sang tokoh masih berada di lokasi yang sama dengan penulis. Pesan berisi foto yang penulis kirim hanya dibaca saja (centang biru). Dari jauh penulis memperhatikan si tokoh memperhatikan smartphonenya, namun langsung dimasukkan ke sakunya tanpa membalas sepatah kata pun seperti “Terima kasih” atau yang paling singkat sekalipun seperti “Tq”.

Dalam kasus ini mungkin kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa sesulit itukah menyampaikan terima kasih? Kita memang harus melihat dari sisi positif, mungkin ia sedang sibuk membalas atau melayani banyak pesan penting lainnya, tetapi apa sulitnya langsung membalas atau minimal membalas dengan simbol emosi seperti jempol.

Terkadang kita lupa hal-hal yang sederhana itu dapat mengubah pandangan dan kesan orang lain terhadap kita. Kita lupa menghargai hasil kerja orang lain walau pekerjaan itu sederhana sekalipun. Di situlah kita dinilai, sejauh mana kita menghargai orang sekeliling kita, apalagi yang telah membantu kita.

Akhlak kita ketika berhubungan dengan manusia (hablumminannas) terkadang mencerminkan hubungan kita dengan Allah Swt (hablumminallah). Sesama manusia saja kita tak saling menghargai atau berterima kasih, apalagi dengan Allah.

Salah satu bentuk manusia menghargai setiap pemberian Allah Swt adalah dengan bersyukur. Bagaimana bentuk kita bersyukur atau berterima kasih kepada Allah dengan melakukan perintahNya termasuk perintah untuk menjaga silaturahmi dan menghargai sesama manusia.

Sering kita amati tingkah laku manusia ketika mendapatkan sebuah nikmat dunia seperti jabatan, rezeki, dan nikmat lainnya merasa angkuh dan sombong. Sehingga memandang rendah orang lain yang tak seberuntung dengannya. Sesungguhnya mereka lupa bahwa itu semua datang dari Allah.

Di dunia ini Allah Swt menguji kita tidak hanya dengan kesusahan atau kesedihan semata, tetapi terkadang dengan nikmat-nikmat dunia. Allah ingin melihat kita sejauh mana kita tetap taat kepadaNya. Sejauh mana manusia itu tetap sabar menjalankan perintah Allah Swt.

Manusia sering lupa dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan kembali. Mereka lupa ketika dilahir ke muka bumi tidak membawa apa-apa dan ketika meninggal apa yang akan dibawa. Jika saja manusia itu sadar, sungguh mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur.

Ketika kita berdoa kepada Allah Swt, namun doa kita tak dikabulkan Allah, lantas apakah kita marah kepada Allah dengan menyebutnya tak adil? Sedangkan tetangga kita mendapatkan apa yang mereka mau? Jawabannya “Allah Swt lebih tahu dari hambaNya”.

Sama halnya dengan seorang anak yang masih berusia lima tahun terus-terusan meminta orang tuanya membelikan sebuah smartphone. Lalu ayahnya tidak menuruti keinginannya karena itu tidak baik bagi anak usia lima tahun. Apakah lantas orang tua tidak sayang kepada anaknya?

Begitu juga dengan Allah, mengapa menunda jawaban atas setiap doa kita, mungkin Allah sedang menunggu waktu yang tepat dan yang terbaik bagi kita. Demikian pula orang tua tadi sedang menunggu hingga si anaknya dewasa baru dibelikan smartphone ketika sudah layak digunakan.

Maka jadilah manusia yang pandai bersyukur kepada Allah dan menghargai sesama makhluk. Bersikap baik itu tak hanya dengan manusia, melainkan dengan semua makhluk ciptaan Allah lainnya. Semoga kita menjadi orang-orang yang beruntung di hadapan Allah Swt.[]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!