Jihad Ekonomi

GEMA JUMAT, 11 OKTOBER 2019

Kita sudah terlalu asyik bicara politik praktis. Akibatnya kita terlewat perkara ekonomi.  Bidang utama ini  pun dipegang oleh non Islam. Mereka merajai roda ekonomi dari hulu ke hilir. Umat tidak bisa terlepas dari produk yang dipasok. Tidak ada  kata lain, umat harus merebut aspek ekonomi.Ada dua hal  yang bisa dilakukan oleh umat agar mandiri dari aspek ekonomi. Yakinlah, rezeki itu lebih banyak datang dari berdagang. Sebuah hadits lemah yakni dari Nu’aim bin ‘Abdir Rahman al-Azdi, dia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah bersabda: “9 dari 10 (90 %) rezeki ada pada (usaha) perdagangan”. Sementara ada hadits kuat yakni  riwayat istri nabi, Ummu Salamah bahwa para Shahabat menyukai dan mencintai usaha berdagang, demikian juga Rasulullah menyukai dan mencintainya.Bercita-citalah menjadi saudagar atau pengusaha. Percayalah dengan laba yang  diperoleh melalui berniaga, lebih banyak lagi harta yang  digunakan di jalan Allah. Jadilah seperti konglomerat ‘Abdurrahman bin Auf yang dengan hartanya rajin berdema.  Rasulullah bersabda bahwa ‘Abdurrahman bin Auf termasuk 10 golongan yang masuk surga tanpa dihisab.“Ada 10 orang masuk surga (tanpa hisab) ‘ Nabi berada di surga, Abu Bakar, Utsman, Ali, Thalhah, Az Zubair Ibnul Awwam, Sa’d bin Malik, ‘Abdurrahman bin Auf berada di surga.” (Said bin Zaid berkata;) dan jika aku mau maka akan aku sebutkan yang kesepuluh.” ‘Abdurrahman berkata, “Orang-orang lalu bertanya, “Siapa orangnya?” Sa’id diam. ‘Abdurrahman berkata, “Orang-orang bertanya lagi, “Siapa orangnya?” Sa’id menjawab, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” (HR. Abu Dawud)Kita sering mendengar bahwa harta tidak dibawa ke kuburan atau akhirat. Itu salah. Harta yang kita miliki akan membantu di  akhirat dengan cara menitipkan harta di tabungan masjid, kaum dhuafa dan sebagainya. Dari 5 Rukun islam, ada dua perkara yang berkaitan dengan harta yakni berzakat dan berhaji. Jika tidak ada harta,  umat tidak wajib melakukan dua perkara tersebut.Cara kedua yakni  stop berbelanja di kedai-kedai non Islam. Mesti ada kesadaran dan jihad ekonomi untuk belanja pada sesama umat. Belanjalah pada kios tetangga yang menjual untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Bukan untuk menambah harta kekayaan seperti di swalaya dan sebagainya.  Umat Islam harus menciptakan mata rantai bahwa roda ekonomi berputar sesama umat. Menghidupkan ekonomi keumatan dengan berbelanja pada sesama umat  kecuali produk itu tidak dijual pada pedagang  umat.   Belajarlah pada etnik China yang saling  menguatkan sesama pedagang dengan cara membeli sesuatu pada sesama mereka. Dengan demikian uang berputar sesama mereka. Jihad ekonomi  butuh komitmen dan keyakinan bahwa kita tidak sekadar berbelanja namun ada unsur jihad di dalamnya. Umat butuh kedaulatan ekonomi dengan membesarkan sesama  saudagar  Islam.  Berhentilah berteriak anti Yahudi atau neo kapitalis Amerika jika pada waktu bersamaan kita sedang meneguk produk mereka.Hijrahlah dari bertransaksi dari non non Islam kepada sesama muslim. Jika masih memakai nomor  rekening  bank non Islam, hijrahlah ke bank syariat atau setidaknya ke bank pemerintah. Tinggalkan hal-hal khilfiyah atau perbedaan mazhab  yang saling mengkafirkan sesama umat. Pasalnya, umat masih memiliki segudang masalah umat seperti kemiskinan, kebodohan, fanatik buta dan sebagainya yang membelenggu umat. Mari kita jihad ekonomi. Mulai dari diri sendiri untuk tidak menginjak kaki di toko atau supermarket  milik ureung kaphe jika produk tersebut ada pada pedagang  muslim. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!