Kaya Sejati

Dr. Sri Suyanta Harsa, MAg (Dosen FTK UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 1 Zulkaidah 1440

Saudaraku, tema muhasabah hari ini saya yakin menjadi idaman semua orang. Ya cita-cita menjadi kaya adalah fakta. Realitasnya tercapai atau tidak itu lain cerita, tetapi tetap saja kaya mengundang pesona. Apalagi kalau di dunia bisa kaya, di akhirat masuk surga, ya Allah bersyukurnya. Oleh karena itu, kita menelisik kembali tentang kaya dalam Islam.

Kaya dalam Islam sejatinya tidak beorientasi pada materi semata, tetapi lebih cenderung kepada kekayaan immateri atau substansinya. Oleh karena itu, Rasulullah Nabi Muhammad saw mengingatkan kita umatnya bahwa kekayaan sejati itu berada di hati. Maka menjadi kaya atau tidak sejatinya lebih merupakan persoalan mental batiniah masing-masing orang.

Realitasnya secara kasat mata, ada seseorang atau keluarga yang harta dan kekayaan materinya biasa-biasa saja, tetapi sikap dan perilakunya menunjukkan ketercukupannya (qanaah). Namun juga ada yang sebaliknya, sudah bergelimang dalam harta, tahta juga keluarga, namun sikapnya nampak tetap saja kurang dan kurang sehingga grangsang mencari dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Kaya materi, punya harta benda, punya emas picis rojo brono, kendaraan tersedia tentu saja penting karena ini semua adalah bagian dari hiasan dunia, sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman, lebih mudah, lebih indah dan lebih mempesona dalam menjalani kehidupannya. Karena hiasan, maka idealnya bisa dinikmati bersama oleh sebanyak-banyaknya pihak. Sunnatullah, memang, bahwa setiap manusia menyukai harta benda. Di sinilah harta itu kemudian mengundang pesona tersendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa harta adalah barang (termasuk uang dan sebagainya) yang menjadi kekayaan dan milik seseorang atau kelompok; kekayaan berwujud maupun tidak berwujud yang bernilai dan yang menurut hukum dimiliki. Dalam praktiknya mewujud dalam seluruh aset kehidupannya, seperti perhiasan, sandang, papan, pangan, kendaraan, hewan piaraan, sawah, ladang, tanah, pekarangan, uang, tabungan, deposito, saham, hak cipta dan seterusnya.

Dalam normativitas Islam, juga dinyatakan bahwa Allah memang menghadirkan rasa senang pada setiap manusia terhadap harta, dalam segala rupa bentuknya. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik” .(Qs. Ali Imran 14).

Cobalah perhatikan kesenangan manusia terhadap harta benda, benar-benar tidak bisa disembunyikan dalam setiap perilakunya, meskipun sejatinya menyadari bahwa saat lahir dulu maupun meninggal nantinya tidak dibawa serta. Makanya di ujung ayat tersebut di atas, kita diwanti-wanti bahwa (keridhaan) di sisi Allah merupakan muara kebaikan atas semua karunia (termasuk harta) yang ada pada manusia. Jadi muara kepemilikan harta dan membelajakannya adalah untuk meraih ridha Allah semata.

Secara tersirat, Islam menyukai umatnya menjadi kaya raya, sehingga bisa memaksimalkan pengabdian kepada Rabbnya dengan kekayaannya. Dengan hartanya bisa memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan yang layak dan bermartabat, dapat menunaikan rukun Islam dengan sempurna, naik haji, mengeluarkan zakat sedekah infak dan wakaf, menyantuni sesamanya, menyediakan beasiswa dan seterusnya.

Inilah agaknya saking cinta kepada hambaNya, sehingga Allah menegaskan bahwa Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran 15) yang dengan harta kekayaannya mampu memaksimalkan pengabdiannya. Inilah kaya materi yang dibarengi dengan kaya hati. Maka tetap saja kaya hati yang harus dimenangkan.

Betapa bahagianya kehidupan orang-orang yang kaya hati; senantiasa berusaha dan mensyukuri nikmat yang diterima. Hatinya damai sejahtera dan tidak terikat dan tidak diperbudak oleh dunia Rasulullah bersabda “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).

Saudaraku, agar diijinkan dan dikaruniai menjadi kaya, baik mateti maupun kaya hati, maka kita memohon dan berusaha mewarisi di antara sifat dari asmaul husnyaNya Allah yakni al-Ghaniy, dan al-Mughniy.

Bila al-Ghaniy secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kaya, segala kerajaan di tanganNya, dan seluruh alam dalam kekuasaanNya, maka al-Mughniy dipahami sebagai sifatNya yang maha mengayakan kepada hamba-hambaNya. Dengan al-Mughniy, Allah memberi kekayaan kepada sesiapapun yang dikehendaki. Allah melimpahkan karuniaNya berupa harta tahta dan keluarga kepada hamba-hamba pilihanNya, sehingga kaya harta dan kaya anak juga sanak saudara. Allah mencurahkan ilmu dan kebijakan kepada orang-orang terpilih, sehingga kaya ilmu dan arif bijaksana. Allah juga yang menganugrahkan rasa bahagia di hati hamba-hamba tetbaikNya, sehingga kaya hatinya.

Berkaitan dengan al-Ghaniy, Allah berfirman yang artinya Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertawakallah kepada Allah. Tetapi jika kamukafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (Qs. Al-Nisaa’ 131)

Adapun dalam konteks al-Mughniy, Allah berfirman yang artinya, Dan kawinkanlah orang-orang yang kesendirianya di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mslahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, akan sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah di paksa itu. (Qs. Al-Nuur 32-33)

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Qs. Al-Hajj 64 )

Allah lah yang maha kaya, dan maha mengayakan hamba-hambaNya yang dikehendaki. Oleh karena itu sudah selayaknya, kita mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa Allah yang maha kaya dan maha mengayakan hamba-hambaNya.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan memperbanyak memuji dengan namaNya seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan banyak menyebutNya, semoga Allah menganugrahkan kemampuan kepada kita untuk memberikan segala sesuatu yang dapat bermanfaat pada kehidupan, seperti harta, buah pikiran dan perhatian untuk kemaslahatan.

Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata. Di antaranya dengan mengukuhkan nilai-nilainya dalam sikap keseharian, seperti menjadi penebar kebaikan dan kebajikan.

Zikir kondisioning agar bisa kaya dan mengayakan, baik materi maupun apalagi kaya hati adalah membasahi lisan dengan Allah ya Ghaniy, Allah ya Mughniy, Allah ya Ghaniy, Allah ya Mughniy, Allah ya Ghaniy, Allah ya Mughniy, …dan seterusnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!