Kenali Hoaks di Medsos

GEMA JUMAT, 21 DESEMBER 2018

Oleh Zulfurqan

Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi membuat dunia terasa semakin sempit. Masyarakat dapat saling terhubung dengan memanfaatkan internet untuk mengakses media sosial (medsos) seperti facebook, instagram, twitter, sebagai sarana komunikasi secara cepat, murah, serta saling berbagi informasi.

Akan tetapi, tidak sedikit pihak tidak bertanggung jawab memanfaatkan medsos untuk menyebarkan berita bohong (hoaks) demi keuntungan pribadi seperti meningkatkan popularitas maupun meraih ketenaran dan mendapatkan simpati masyarakat. Mereka tidak terlalu peduli dampak yang sangat buruk bisa terjadi, bukan hanya pada skala lokal, bahkan nasional ataupun internasional.

Penyebaran hoaks bisa menimbulkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan orang. Pesan-pesan di dalamnya sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah. Mereka tidak jarang memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, dan suara rakyat

Salah satu hoaks terbesar tahun ini adalah pengakuan aktivis kondang Ratna Sarumpaet. Ingin mengatakan penyebab mukanya lebam-lebam karena mengalami penganiayaan padahal diakibatkan operasi plastik yang belum lama dijalaninya. Ratna yang merupakan tim pemenangan nasional salah satu calon presiden kemudian membuat heboh masyarakat Indonesia.

Penyebaran hoaks di medsos bisa berantai karena dipicu perilaku penggunanya yang sebagian ingin seolah-olah menjadi orang pertama memperoleh informasi menarik. Tujuannya adalah kepuasan batin sebab bisa memperoleh pujian meskipun sekadar ucapan terima kasih. Sedangkan sebagian lagi karena memang niat berbagi informasi bermanfaat.

Dampak hoaks di media sosial sangat luas mengingat berdasarkan survei Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017 yakni 143,26 juta orang. Sebanyak 87,13 % pengguna internet mengakses media sosial. Masyarakat pengguna media sosial harus diedukasi tentang ciri-ciri hoaks.

Dalam Pasal Pasal 28 ayat 1 Undang-undang ITE menyebutkan bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak  menyebarkan berita bohong dan menyesatkan dan  mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.  Sanksi pidana 6 tahun dan atau denda 1 miliar. Praktisi Anti Hoax  Institut Teknologi Bandung (ITB) Dimaz Fathroen memaparkan lima langkah mengecek berita berita hoaks di media sosial yakni:

  1. Ada kata-kata: Sebarkanlah! Viralkanlah! (dan sejenisnya).
  2. Artikel penuh huruf besar dan tanda seru.
  3. Merujuk ke kejadian dengan istilah kemarin, dua hari yang lalu, seminggu yang  lalu, tanpa ada tanggal yang jelas.
  4. Ada link asal berita tapi waktu ditelusuri, beritanya sama sekali beda atau malah link sudah mati. Cek terlebih  dahulu link yang ada di info tersebut. Contoh ketika ada berita Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani antre Nike Great Sale berjam-jam. Ternyata nama sama, tapi bukan Menkeu.
  5. Link berita asal merupakan opini seseorang, bukan fakta. Harus diingat, beda  opini dan fakta.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!