Krisis Kader Mufassir

GEMA JUMAT, 17 MEI 2019

Banda Aceh (Gema)

Keberadaan mufassir, ahli tafsir al-Qur`an di tengah-tengah umat sangat dibutuhkan. Mufassir ibarat pelita kehidupan yang memberi petunjuk umat dalam menguliti atau mengupas kandungan al-Qur`an. Dalam konteks kekinian, Indonesia bisa dikatakan dalam kondisi krisis mufassir.

Penggagas Forum Jurnalis Muslim (Forjim) Ustadh Ibnu Syafaat mengatakan, Indonesia mengalami krisis mufassir  lebih dari dua dekade, Padahal kata dia, sejak era sebelum kemerdekaan hingga tahun akhir tahun 1980, Indonesia banyak melahirkan mufassir-mufassir yang berkontribusi terhadap dakwah Islam. Bahkan mereka menghasilkan karya kitab tafsir yang fenomenal. Misalnya, Syaikh Nawawi Al Bantani dengan Tafsir Marah al-Labid li Kasyf al-Ma’na alQur’an al-Majid (1880), H. A. Hassan dengan Tafsir al-Furqon (1956), Buya Hamka dengan Tafsir Al-Azhar (1967), KH Muhammad Ramli dengan Tafsir Al Kitab al Mubin (1974), KH Bisri Mustofa dengan Tafsir al-Ibriz (1980) KH. Ahmad Hamid Wijaya dengan Tafsir al-Mahmudy (1989), dan masih banyak lagi.

Menurut jurnalis senior di media dakwah Hidatayatullah ini, umat Islam Indonesia sekarang hanya mengenal sosok Quraisy Shihab sebagai mufassir kontemporer. Agar masa mendatang banyak lahir mufassir secara terus menerus sepanjang tahun, maka paling tidak dibutuhkan program-program kaderisasi jangka panjang. Kita melihat para mufassir Indonesia sudah sedari kecil diperkenalkan oleh orangtuanya untuk belajar Islam.

Ia mencontohkan, Buya Hamka misalnya. Oleh ayahnya, Buya Hamka telah ditanam nilai-nilai keislaman semasa usia anak-anak. Bahkan di usia mudanya Buya Hamka lebih banyak menghabiskan waktu di surau hingga menginap untuk memperdalam ilmu Islam.“Setelah itu Buya Hamka melanjutkan belajar Islam di Pesantren Thawalib, Padang Panjang, Sumatera Barat. Kemudian pada usia remaja, Buya Hamka memutuskan memperdalam ilmu alQur`an ke Mekkah, Arab Saudi,” paparnya.

Gerakan Magrib Mengaji yang sudah digulirkan di beberapa daerah di Indonesia tentunya patut didukung. Selama ini kita melihat generasi muda kita saat waktu Magrib dan Isya lebih banyak memilih di depan televisi dibanding pergi ke masjid untuk mengaji.“Gerakan Magrib Mengaji ini adalah salah satu upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak dan remaja kepada masjid dan ilmu Islam. Agar lebih terukur, ada baiknya bila gerakan ini memiliki silabus atau kurikulum baku yang dapat diberlakukan di berbagai daerah,” ujarnya. (marmus)


====================

Banda Aceh Jadi Kota Terbaik dalam Penanganan Konflik Sosial

Banda Aceh (Gema)

Prestasi dan inovasi Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman khususnya dalam penanganan konflik sosial mendapat apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.

Penghargaan berupa piagam dan plakat tersebut diserahkan langsung oleh Menkopolhukam Wiranto dan Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Wali Kota Aminullah pada acara Rakornas Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial 2019, Kamis (16/5) di Jakarta.

“Alhamdulillah, hari ini Banda Aceh kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia, kita yang menjadi yang terbaik dalam hal penanganan konflik sosial,” kata Aminullah usai menerima penghargaan. 

Menurutnya, indikator penerimaan penghargaan tersebut karena Banda Aceh termasuk kota dalam kategori aman. “Tidak pernah terjadi konflik antar suku maupun agama di Banda Aceh. Dan kita juga sukses menyelenggarakan Pemilu 2019 tanpa ada gesekan,” ungkapnya.

“Tadi Pak Wiranto mengatakan sangat mengapresiasi kinerja Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Banda Aceh yang dibentuk dan diketuai oleh wali kota. Kerja keras dan kerja sama tim terpadu ini berhasil menciptakan kondisi yang kondusif terutama menjelang dan pasca Pemilu.”

“Terima kasih pula kami sampaikan kepada segenap unsur Forkopimda dan masyarakat atas dukungannya selama ini. Bersama kita dapat membuktikan bahwa sebagai daerah bekas konflik berkepanjangan namun kini kotanya sangat aman dan nyaman di bawah naungan syariat Islam,” katanya.

Masih menurut Aminullah, penghargaan tersebut sangat berarti bagi Banda Aceh yang sedang menggenjot sektor pariwisata dan investasi. “Seperti kita ketahui, keamanan menjadi faktor utama untuk masuknya wisatawan dan investor ke suatu daerah,” katanya lagi. (rel/marmus)

=====

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!