Kurikulum Resmi vs Tersembunyi

Sri Suyanta Harsa:
Muhasabah 7 Rabiul Akhir 1441

Saudaraku, tema muhasabah hari ini, kita akan mengulangkaji tentang keberadaan kurikulum, baik kurikulum yang resmi sebagaimana tersurat atau tertulis terencana secara sistematis dalam ragam dokumen maupun kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang tersirat terhampar dalam situasi, interaksi, kondisi yang ada dan terjadi di intitusi pendidikan formal dan sekitarnya.

Kurikulum resmi dapat dilihat, dibaca dan ditelaah melalui dokumen-dokumen resmi yang ada di sekolah/madrasah/perguruan tinggi dimaksud, baik yang muatannya nasional maupun muatan lokal. Sedangkan kurikulum tersembunyi terhampar dalam suasana dan living di sekolah/madrasah/perguruan tinggi masing-masing.

Dalam konteks kurikulum tersembunyi atau hidden curriculum, karena terhampar dalam suasana secara live di suasana dan lingkungan lembaga pendidikan, maka ruang lingkupnya juga menjadi sangat luas.

Seperti yang sudah disebut dalam muhasabah yang baru lalu bahwa kehadiran kepulangan yang tepat waktu dosen dan mahasiswa, guru dan murid, kyai dan santri, teungku dan simeudagang menjadi amat penting karena di padanya memungkinkan terciptanya suasana interaktif edukatif secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Dengan kata lain tatap muka itu tidak bisa digantikan dengan dengan tatap pulsa/tatap data, meski telekonfrence sekalipun. Karena kehadiran seorang pendidik akan memberikan pengaruh edukasi yang sangat kuat bagi peserta didiknya. Pada saat inilah seluruh kepribadian pendidik menjadi kurikulum yang langsung atau tidak langsung dipelajari dan diterima oleh peserta didik. Ya seluruh kepribadian pendidik, seperti cara berjalan dan duduk, bagaimana tersenyum juga tertawa, dalam berpakaian, gaya makan minum, cara berbicara menyampaikan bahan ajar, sijap saat menguap atau batuk, gaya menulis, strategi menjawab pertanyaan, sampai sopan santunnya, bahkan religiusitas pendidik menjadi hidden curriculum meskipun materi yang disampaikan tentang matematika, fisika, biologi, bahasa Indonesia atau ilmu akliah lainnya sekalipun.

Demikian suasana sosial lainnya yang terjadi di sekolah/madrasah/perguruan tinggi masing-masing. Pola hubungan dan seluruh perilaku antar sivitas warganya, suasana alamiah yang melingkupinya memberikan andil yang sangat signifikan bagi pendidikan peserta didik.

Oleh karena itu, kepada para tenaga kependidikan dan para pendidik yakni pegawai, dosen, guru, kyai, teungku, orangtua dan para pendidik lainnya harus hati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku. Mesti selalu diingat ujaran hikmah bahwa bila guru pipisnya sambil berdiri, maka pipis muridnya bisa jadi sambil berlari-lari. Begitulah kira-kira betapa kemuliaan itu relatif sulit diwariskan, tetapi sebaliknya terhadap perilaku salah tidak diajarkan pun sering terjadi kesalahan (baca kemaksiatan), apalagi bila dikondisikan.

Sungguh disayangkan apabila masih terjadi laku indisipliner yakni hal-hal yang tidak mencerminkan perbuatan orang sekolahan/terpelajar seperti berlalu lintas menyalahi aturan, tidak mengenakan sabuk pengamanan, meludah sembarangan, menerobos lampu merah, berjalan berlawanan arah padahal jalan searah, belok tidak pada tempatnya memburu cepat, memarkirkan kendaraan semau-maunya sendiri, merokok dan membuang puntungnya seenaknya, minum kopi atau makan snack dengan berdiri atau bahkan ditambahi dengan menggunakan tangan kiri, kelakar kebablasan, meminjam buku di perpustakaan tapi tidak mengembalikannya padahal buku referensi, memanipulasi data untuk mengejar dana, ketika adzan berkumandang ngajak shalat tapi masih asyik ngobrol dan lain sebagainya. Juga dalam bertutur kata dan bergaya.

Di samping perilaku dan tutur kata, suasana akademik, suasana alamiah, kebersihan lahan, kebersihan toilet dan kamar mandi, mushalla atau masjid, kerapian, keindahan, ketertiban, aturan keluar masuk secara disiplin dan regulasi yang diberlakukan juga berpengaruh terhadap peserta didik. Tentu semua ini menghajatkan rasa ikut punya, ikut serta dan ikut bertanggungjawab (sense of belonging, sense of participating and sense of responsibility) dari seluruh sivitas warganya sehingga beradab dan maju bersama-sama.

Ketika dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi berlangsungnya pendidikan melalui proses belajar mengajar dengan memenuhi cita-cita dan tujuan bersama, maka mestinya kita mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, menyadari sepenuh hati bahwa kurikulum resmi maupun yang tersembunyi memilikii pengaruh yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dan sivitas warganya.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya mengucapkan alhamdu lillahi rabbil ‘lamin, semoga Allah menganugrahi kekuatan kepada kita sehingga dapat mengemban amanah prndidikan dengan istiqamah dalam ketaatan kepadaNya.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, yaitu menciptakan suasana kondusif bagi terselenggaranya proses belajar mengajar, sehingga dapat benar-benar melahirkan orang-orang yang terpelajar.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rabb ya Allah ya Karim dan seterusnya. Ya Allah, zat yang maha mendidik dan maha mulia memuliakan, maka tunjukilah kami agar menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri karuniaMu.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!