Lebih Luas Luwes

Dr. Sri Suyanta Harsa, MAg (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 23 Syawal 1440

Saudaraku, menyambung tema muhasabah tentang menangkap pesan moral syawalan, yakni upgrading personaliti islami, maka tema muhasabah hari ini adalah berusaha menjadi lebih lapang, luas, dan luwes.

Lapang, luas dan luwes adalah sikap mulia yang tentu bermuara di hati yang diilhami oleh kemahaluasan karunia Allah yang dititipkan kepada hamba-hambaNya. Makanya dalam iman Islam, kita meyakini bahwa hanya Allah yang maha luas, maha lapang, sehingga di antara asmaul husnaNya adalah al-Baasith, al-Waasi’.

Sebagai manusia kita berusaha menjadi hambaNya yang memiliki percikan sifat lapang, luas dan luwesNya Allah. Dalam tataran praktis, hati yang lapang nan luas mewujud pada sikapnya yang suka membantu sesamanya, menampungi semua keluhan, mengijabah segala permintaan secara proporsional, gemar memudahkan orang lain saat berurusan atau berinteraksi dengannya, tidak mempersulit apalagi menghalangi dan menahan-nahan penyelesaiaan hajad dan urusan orang lain di tangannya.

Seandainya memegang amanah yang berhubungan pada layanan publik, misalnya sebagai pegawai suatu instansi/swasta atau kantor atau perbankan, dokter, bidan, perawat, dosen, guru, perangkat negeri, aparat keamanan, penegak hukum, penyedia layanan publik lainnya menjadi penting rasanya memberikan layanan yang prima, memangkas birokrasi yang bertele-tele dan berliku-liku, berusaha melapangkan jalan agar lancar dilalui segala urusan yang dihajadkan oleh orang banyak.

Jangan mentang-mentang berkuasa atau saat kekuasaan dalam genggaman, atau saat pulpen atau palu godam di tangannya sehingga bisa berbuat sesuka suka dirinya, tidak peduli merepotkan, memberatkan dan menghambat-hambat urusan orang lain. Mestinya diingat bahwa suatu saat kita juga akan berurusan dan menghajadkan bantuan orang lain. Atau anak cucu dan saidara kita juga akan berinteraksi dan berurusan dengan orang lain. Mestinya diingat bahwa ketika kita suka memudahkan dan membantu orang lain, maka kita atau anak cucu kita juga akan dimudahkan urusannya dan dilapangkan segalanya oleh Allah yang al-Basith.

Allah sebagai al-Baasith secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuasa melapangkan segala urusan hamba-habaNya. Allah memudahkan rezeki kepada orang-orang yang dikehendakiNya.

Dalam banyak tempat dalam al-Qur’an, Allah berfirman yang maknanya. Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Qs. Al-Israa’ 30)

Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs al-Ankabut 62)

”Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Qs. Al-Syuura 27)

Allah berfirman yang maknanya, siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Qs. Al-Baqarah 245)

Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). Qs. Al-Ra’d 26)

Saudaraku, dengan memperhatikan normativitas di atas, disadari bahwa skope kehidupan manusia di dunia ini juga sangat luas bahkan tanpa batas. Oleh karenanya untuk memperoleh rasa bahagia Allah yang maha luas (Allah al-Waasi0′) menitip sifat lapang dan bahkan juga dianugrahi keleluasan dalam usaha dan jangkauannya. Mengapa? Sekali lagi, karena semua ini diciptakan dan kita sengaja dihadirkan oleh Allah Al-Waasi’.

Al-Waasi’ juga dipahami bahwa Allah Luas; luas kekayaanNya, luas kedermawananNya, luas pengetahuanNya, luas kekuasaanNya, luas kasih kasih sayangNya, luas ampunanNya dan luas sifat-sifat kemuliaanNya.

Dakam konteks ini al-Waasi’ disebut dalam al-Qur’an, di antaranya berkaitan dengan keluasan pemberianNya, Allah berfirman yang maknanya Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Maa’idah 54)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Nuur 32)

Adapun keluasan ampunanNya, Allah berfirman yang maknanya (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (Qs. Al-Najm 32)

Kita sebagai hamba Allah hanya berusaha menjadi hambaNya yang baik, membumikan sifat dan sikap lapang dan melapangkan, sikap luas dan meluaskan serta luwes dalam menebar kemaslahatan di bumi. Ketika ini menjadi nyata, maka kita layak mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati yakni meyakini sepenuhnya bahwa Allah dengan kemahaluasanNya senantiasa mengaruniakan sifatNya kepada hamba-hambaNya, sehingga tercermin pada lahirnya pribadi yang luas wawasan, suka melapangkan dan memudahkan segala yang berurusan dengannya.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahi rabbil’alamin, sehingga Allah melapangkan jalan hidup kita dan meluaskan pemahaman kita atas agamaNya.

Ketiga, mensyukuri dengan perbuatan nyata dengan berusaha menjadi hambaNya yang mewarisi keluasan dan kelapangan dalam segala hal.

Dalam tataran praktis, mestinya dibiasakan melapangkan urusan orang lain dan memberi kesenangan kepada sesiapapun, meluaskan keberkahan hidup seseorang, memberi kelonggaran, memberi kesenangan dan memberi kemudahan kepada diri sendiri dan orang lain.

Untuk meneguhkan sifat ini agar terpatri di hati menyembul dalam perilaku, maka kita basahi lisan ini dengan mengulang-ulang mengucapkan Allah ya Basith, Allah ya Waasi’, Allah ya Waasi’, Allah ya Waasi’… dan seterusnya baik saat baca muhasabah ini, saat di atas kendaraan, saat istirahat, saat belajar, mengajar, bekerja, sambil memasak saat apapun yang lazim bila mungkin. Aamiin.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!