Manusia Merdeka

GEMA JUMAT, 17 AGUSTUS 2018

Oleh M Syukur Hasbi

Pada hari ini, 17 Agustus 2018 kita kembali memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Bila dikatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka juga perlu ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala individu manusia.

Allah menciptakan manusia sedemikian rupa dengan potensi-potensi yang dimiliki agar mampu menggapai tujuan dan cita-citanya. Tujuan dan cita-cita itu milik manusia dan tidak tepat bila disebut milik Allah. Sebab,Allah tidak memiliki tujuan. Setiap tujuan itu mengharuskan adanya kekurangan yang belum dicapai, dan ia baru sempurna bila tujuan tersebut tercapai. Maha Suci Allah dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Cita-cita dan tujuan hidup munusia adalah berusaha mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan ini bermacam-macam dan terkadang salah dipahami. Kaum materialis misalnya, kebahagiaan yang mereka pahami adalah usaha manusia untuk dapat memuaskan kebutuhan jasmaninya. Mereka menolak istilah-istilah rohani atau jiwa selama hal itu tidak dapat dieksperimen layaknya materi. Namun kita sebagai muslim yang megimani adalah kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini, maka kebahagiaan yang kita ingin capai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.

Untuk menggapi kebahagiaan itu, manusia dalam kehidupan ini tidak mungkin mampu memenuhi segala kebutuhan bagi dirinya untuk menggapai kemuliaan dan kesempurnaan. Coba perhatikan saja, seorang manusia memiliki kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal. Puluhan bahkan ratusan orang lain bekerja untuk kebutuhan yang kita gunakan. Pakaian misalnya, berapa banyak orang yang bekerja untuk membuat pakaian yang kita hanya memakainya saja. Begitu juga dengan makanan, tidak mungkin semua kita harus menjadi petani atau nelayan. Maka pernyataan manusia adalah makhluk sosial bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan.

Ketika semua orang ingin mencapai semua keinginannya, maka tabrakan kepentingan dan konflik pun menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Disini dapat dipahami bahwa kemerdekaan setiap individu manusia bukanlah bermakna manusia bebas melakukan apapun tanpa batas. Seperti halnya lampu rambu lalu lintas, bila semua pengendara dari segala arah ingin mencapai tujuannya tanpa menghiraukan orang lain, maka bisa dipastikan terjadinya tabrakan. Dari itu, makanya diperlukan lampu sebagai rambu-rambu lalu lintas agar semua pengendara dan pejalan kaki bisa lewat dengan aman.

Rambu lalu lintas dan sejumlah hukum dan aturan pun dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan bersama untuk tidak terjadinya konflik. Tentu saja, aturan dan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat manusia tidak selamanya sempurna sehingga sering terjadinya perubahan di mana-mana.

Sudah tentu yang paling paham dengan manusia adalah penciptanya, yaitu Allah Swt. Dari itulah diperlukannya manusia-manusia suci yang dapat menjalin hubungan dengan Allah taala untuk membawa risalah-risalah agar manusia bisa menggapai kesempurnaanya. Itulah falsafah diutusnya para nabi selaku manusia suci sebagai penghubung antara langit dan bumi. Dari merekalah ajaran-ajaran suci disampaikan kepada manusia agar manusia itu bisa mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki.

Jadi, kemerdekaan yang ada pada manusia itu adalah kebebasannya dalam berkhendak (mukhtar). Hikmah Ilahi dari ciptaan seperti ini agar manusia bisa mencapai kesempurnaan sesuai dengan kehendak dan keinginannya sendiri. Selain itu, manusia juga akan merasa punya tanggungjawab atas pekerjaan yang dilakukannya sendiri dihadapan Allah Swt  dan dihadapan masyarakat dan alam sekitar tempat ia hidup. (m syukur hasbi)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!