Dt. Sri Suyanta Harsa, MAg (Dosen FTK UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 8 Zulkaidah1440

Membangkitkan Semangat

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah berusaha menjadi pribadi lebih menarik, yang memiliki semangat juang tinggi dan mampu memotivasi atau membangkitkan semangat sesamanya untuk bersikap bijaksana dan berbuat kebaikan.

Pribadi yang menarik dalam perspektif iman Islam adalah pribadi yang bertakwa. Namun karena jangkauan ketakwaan itu sangat luas, maka pribadi yang menarik sering dipersonifikasikan ke dalam beberapa sifat dan sikap yang merefleksi dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Meskipun sangat-sangat subyektif, namun secara praktis ternyata ada pribadi yang menarik karena paras wajahnya yang cantik atau tampan, perawakannya semampai, serasi, rapi dan seimbang atau tampilan fisik lainnya.

Ada pribadi yang menarik karena ianya memiliki atau bergelimang dalam kekayaan harta atau menduduki tahta. Di sinilah menjadi sangat efektif slogan seperti “banyak uang orang datang” sebaliknya “tidak ada uang – temanpun bisa menghilang”. Di saat menjabat, banyak yang mengaku sahabat, di saat menjadi rakyat- ketemupun pura-pura tidak lihat.

Ada pribadi yang menarik karena keturunannya. Biasanya keturunan atau trah berkolaborasi dengan status keluarga dan kekayaannya, seperti berdarah biru, ningrat, sayyid, syarifah, raden, ajeng, ayu, teuku, andi dan marga kemuliaannya lainnya.

Ada pribadi yang menarik karena ilmu dan agamanya yang terlihat pada keshalihan perilakunya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Mujadalah 11)

Dan dalam sebuah riwayat diceritakan adanya faktor-faktor atau daya tarik seorang wanita dinikahi atau seorang pria diterima pinangannya di antaranya. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. (Hr. Bukhari)

Nah, mengapa seseorang memiliki daya tarik kepada sesamanya seperti yang digambarkan di atas. Dalam perspektif iman, karena manusia dianugrahi oleh Allah akan sebagian sifat-sifatNya mulia yang lazim terkandung dalam asmaul husnaNya.

Saudaraku, Allah setidaknya memiliki 99 sifat sebagai asmaul husnaNya, merupakan nama-nama Allah yang indah, meskipun, sejatinya jumlahnya bisa sangat banyak melebihi jumlah yang tertulis. Makanya ada ulama yang berpendapat bahwa nama-nsma indah yang dimiliki Allah ada sembilan puluh sembilan, seratus, seribu bahkan empat ribu. Namun yang pasti, nama-nama Allah itu semuanya menunjukkan kesempurnaanNya.

Tentang asmaul husna ini, dinyatakan dalam beberaoa tempat dalam Al-Qur’an. Allah berfirman. “Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa’ul husna (nama-nama yang baik).” (Q.S. Thaa-Haa 2)

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asmaa’ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Q.S Al-Israa’ 110)

“Allah memiliki Asmaa’ ulHusna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…” (QS. Al-A’raaf 180)

Semua asmaul husnaNya Allah mengandung kemahasempurnaan zat, sifat dan af’al perbuatanNya, dan secara khusus yang terkait dengan daya tarik yang memotivasi dan maha membangkitkan adalah Al-Baa’its.

Al-Baa’its sendiri dapat dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha membangkitkan manusia dari alam kubur, sebagaimana firman Allah yang maknanya, Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).(Qs. Yaasin 51-52)

Al-Baa’its juga dapat dipahami bahwa Allah adalah yang mengutus para rasulNya, sebagaimana firman Allah yang artinya Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (Al-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Jumuah 2-3)

Al-Baa’its juga dapat dipahami bahwa Allah adalah zat yang membangunkan manusia dari tidurnya, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-An’am yang maknanya telah disebutkan di bagian depan muhasabah ini.

Allah sebagai al-Baa’its menganugrahkan sebagian sifatNya kepada hamba-hambaNya sehingga berhasil tampil lebih menarik dan dapat memotivasi atau membangkitkan semangat bagi sesamanya untuk berbuat lebih baik. Bila ini telah mewujud dalam perilaku mestinya kita mensyukurinya, baik bersyukur dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, bersyukur dengan hati, kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah maha membangkitkan semangat hamba-hambaNya, Allah maha mengutus para rasul penyampai kebenaran pengingat kelalaian, Allah maha membangunkan manusia dari kuburnya kelak di hari kiamat.

Kedua, mensyukuri dengan lisan, yaitu melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin dan memuji dengan asnNya. Kita senantiasa memuji Allah semoga Allah membangunkan kita dari keterlenaan hidup sebagaimana senantiasa membangunkan kita dari tidur dalam keseharian kita selama ini pada setiap dini hari. Kita juga bermohon, agar Allah mengirim “utusan” sebagai penyampai kebenaran dan pengingat akan kelalaian kita. Dan seterusnya kita juga bernohon nantinya setelah wafat, kita dibangunkan dari kubur dengan wajah indah berseri seperti bulan purnama, bersama keluarga dan saudara-saudara kita menerina catatan amal dengan tangan kanan, dapat melintasi jembatan shirathal mustaqim secepat kilat dan masuk ke dalam surgaNya tanpa hisab serta kekal dalam kebahagiaan bersamaNya.

Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata seperti selalu menyebutNya, segera bangun (baca bertaubat) dari segala kelalaian dan kejahiliyahan selama ini.

Jadi kita dibangunkan oleh Allah dari tidur sebagai pengalaman keseharian yang kita alami terdapat ibrah yang sangat berharga. Dimana kita dibangunkan oleh Allah, bila selama ini masih terjebak dari buaian mimpi-mimpi indah dalam tidur kita. Kita dibangunkan oleh Allah bila selama ini masih terjebak pada rutinitas yang kosong dari kehidupan bermakna. Bangun tidur di pagi hari, bekerja di siang hari, pulang pada petang hari dan beristirahat di malamnya. Kemarin, hari ini, besuk dan seterusnya, rutinitas seperti ini terus berulang dan berulang, sehingga memenuhi seluruh kehidupan sampai tak disadarinya bahkan pada suatu saat nanti janji kembali pada Allah penciptanya sudah dekat. Kita harus bangun dari keterlenaan dalam kehidupan, untuk kemudian terus berbenah dan berbuat maslahat, karena suatu saat Allah akan mengabarkan dan membalas apapun yang kita lakukan.

Zikir pengkondisian sebagai penyejuk qalbu agar menjadi pribadi yang menarik hati dapat menginpirasi kebaikan dan memotivasi menjadi lebih baik adalah membasahi lisan dengan ya Allah ya Baa’its, ya Allah ya Baa’its, ya Allah ya Baa’its … dan seterusnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!