Mengabdi

Gema, 20 September 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Konsekuensi logis dari kesaksian tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusanNya adalah menunaikan peran kehambaan, peran mengabdi.

Allah adalah khalik, dan manusia bagian dari makhluk ciptaanNya. Allah adalah sesembahan satu-satunya, dan manusia berkewajiban menyembahNya, mengabdikan diri hanya padaNya jua.

Lalu bagaimana kita menyembah dan mengabdi hanya kepadaNya. Mengabdi hanya dengan mematuhi segala perintahNya dan menegah seluruh laranganNya.

Allah menuntut bersyukur, maka kita bersyukur. Allah memerintahkan shalat, maka kita shalat. Allah menuntun kita pada jalan kebenaran dan taqwa, maka kitapun berusaha memenuhinya.

Allah melarang sombong, maka kita tidak mendekatinya. Dan seterusnya. Begitulah cara pengabdian hamba atas Allah penciptanya.

Oleh karena itu, di antara etika mengabdi kepadaNya dapat dilakukan antara lain:

Pertama, ikhlas mengabdi. Mengabdi hanya kepada Allah adalah atas panggilan hati nuraninya, tidak dipaksa dan tidak terpaksa.

Dilihat sesamanya atau tidak, tetap melakukan pengabdian padaNya semata.

Kedua, memulai dari sekarang dari yang mudah sesuai dengan ilmunya atasnya dan terus menjaga konsistensinya.

Bila mengetahui ilmu atas suatu amalan, maka kemudian berusaha mempraktikkan dalam kehidupan.

Ketiga, tidak menunda nunda kewajiban. Bila waktunya telah tiba, maka berusaha untuk menunaikannya segera.

Misalnya saat masuk waktu shalat apalagi mendengar adzan, maka bersegera bersiap menunaikan shalat.

Saat sudah sampai hal dan nisabnya, maka zakat segera ditunaikannya.

Demikian juga pada, haji, qurban, aqikah, sunat rasul, nikah dan seterusnya.

Keempat, yakin kebaikan dan kebajikan yang dilakukannya hanya akan kembali ke dirinya, tidak untuk menambah dan mempengaruhi kemahaagungan Allah Swt.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!