MENGGAPAI DINUL HADHARAH

GEMA JUMAT, 5 JULI 2019

Oleh: Muhammad Ikhsan Rizky Zulkarnain, S.H,  Sekretaris Umum IMM Aceh Besar

Islam memiliki prinsip sebagai agama yang berkemajuan (Al Islam dinul hadharah), sekaligus sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan,

Spirit Islam sebagai agama berkemajuan tersebut sangat diperlukan dalam kesadaran dan perilaku sosial umat sekarang ini.

Dalam rangka menggapai kembali indentitas sosial umat Islam sebagai khairu ummat yang ikut andil dalam menciptakan kemajuan dan peradaban setidaknya harus memiliki empat syarat diantaranya adalah:

Pertama, menghidupkan tradisi tsaqafah /tntelektual. Kunci utama dalam sebuah peradaban adalah intelektulisme, hal tersebut begitu dianjurkan dalam Islam, agar manusia memaksimalkan potensi berpikir untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam Kitab Al ‘Aqlu wal ‘Ilmu fil Qur’anulkarim, Yusuf Al Qardhawi mengatakan, penyebutan tentang akal dan semangat intelektualisme dalam Qur’an sebanyak 49 kali. Ini merupakan anjuran nyata Allah SWT kepada kita, agar membangun kemaslahatan dan kemajuan dari pengembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, menjalin semangat ber-ta’awun. Umat Islam sering disebutkan bagaikan sebuah bangunan yang kokoh yang setiap bagiannya saling menguatkan. Kalimat ini harus menjadi basis semangat umat Islam yang memiliki agenda utama yaitu membangun peradaban dengan cara saling ber-ta’awun atau tolong menolong.

Adalah kondisi yang menyedihkan jika energi besar umat terkuras pertikaian antar sesama muslim. Sejarah kehancuran peradaban Islam di Andalusia (Spanyol) pada abad ke-13 cukup menjadi bukti bahwa pertikaian sesama muslim hanya akan melemahkan dan mengeroposkan bangunan solidaritas umat.

Sudah saatnya umat Islam saling membantu, menguatkan dan bekerjasama. Tentu setiap kelompok sosial Islam terdapat perbedaan dan warna arah pergerakan, oleh sebab itu yang menjadi perhatian setiap muslim adalah mengutamakan persamaan dengan saling menguatkan dan mempercayai satu sama lain.  Bukan justru mencuatkan perbedaan yang memicu perpecahan umat.

Ketiga, ersikap inklusif. Aspek ketiga dalam menggapai Islam sebagai  agama berkemajuan adalah perlunya bersikap inklusif, yaitu sikap  terbuka, dialogis  dan toleran. Pesan ini bukanlah hal yang baru dalam Islam, misalkan anjuran saling mengenal dan memahami sesama manusia yang terdapat dalam Al-Hujarat ayat 13 melintasi sekat identitas sosial, yang terkadang menjadi permasalahan jika tanpa ada sikap yang toleran dan terbuka. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan pondasi inklusifitas umat dalam Piagam Madinah, agar setiap manusia saling menghormati satu sama lainnya dan bekerjasama dalam urusan muamalah duniawiyyah.

Keempat, etos profesionalisme-transendental. Aspek keempat yang menjadi syarat untuk menggapai dinul hadharah adalah umat Islam harus menjadi umat yang profesional yaitu umat yang disiplin, berdedikasi tinggi, dan memiliki target pencapaian.

Allah telah bersumpah demi waktu, bahwa manusia mengalami kerugian, kecuali mereka yang mengerjakan kebaikan dan saling menasehati dan sabar (QS Al ‘Ashr). Surat Al-‘Ashr menjadi teologi profesionalisme-transendental, bahwa umat Islam harus bersikap profesional yang berbasis pada nilai-nilai keilahian, karena di dalam Islam barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.

Ini menjadi daya tonjok psikologis, agar umat Islam memiliki etos profesionalisme yang dilandasi prinsip-prinsip ketauhidan.

Akhirnya, apabila keempat pilar tersebut mengkristal dalam kesadaran dan perilaku sosial umat Islam, maka cita-cita luhur kita untuk menjadi ummat mutamaddin yaitu umat yang berkemajuan dan tercerahkan akan dapat terwujud. Semoga!

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!