Menikah Bukan Iseng dan Coba-coba

Gema, 21 Februari 2018

Oleh Dr. Agustin Hanafi, Lc, MA (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry)

Menikah bukan masalah cepat atau lambat. Ukuran cepat dan lambat juga sifatnya relatif, tergantung melihatnya dari aspek yang mana dulu. Apakah karena faktor usia, ataupun kesiapan, materi dan lain-lain. Yang cepat belum tentu lebih baik dan lebih bahagia dari yang lambat, sama juga halnya bagi yang terlambat belum tentu lebih enjoy dan nyaman.

Kalau merujuk ayat dan hadis mengenai pernikahan, yang ditekankan adalah “kemampuan/kesiapan”. Yang dalam hal ini bukan hanya dari segi fisik semata, bisa jadi aspek psikologis, ekonomi, kesiapan dalam menerima budaya, adat istiadat, kesehatan, mental dan lain-lain.

Menikah juga bukanlah sesuatu yang sederhana dan gampang tetapi sifatnya sakral, ikatan suci nan kokoh, tidak mudah lapuk karena hujan dan lekang karena panas.

Untuk itu, sebelum memutuskan untuk melakukan ijab-kabul, pertimbangkan secara matang dan penuh pertimbangan agar langgeng sepanjang hayat.

Karena itu, semenjak awal tanamkan mental yang kuat serta sikap dewasa, misalnya, calon pasangan sukanya makanan tertentu yang biasa dijumpai hanya di kota, jadi ketika menikah dengan wong deso masing-masing saling bersabar dan berusaha menyesuaikan dengan keadaan, sehingga tidak merasa kesukaran.

Begitu juga kalau sebelum menikah telah divonis oleh medis menderita penyakit tertentu, maka ketika berkeluarga telah siap menghadapi kondisi, tidak mudah marah, menyalahkan dan lain-lain.

Atau, pasangan kita takut dengan hewan dan binatang tertentu, jadi masing-masing pasangan harus mengerti, bukan menakut nakuti.

mungkin juga profesinya sebelum menikah adalah……, sekiranya itu halal dan tidak melanggar syariat, upayakan untuk didukung dan didoakan, bukan sebaliknya yaitu akibat menikah malahan harus kehilangan lahan dengan berasumsi perempuan tidak boleh bekerja.

Intinya, semuanya diawali dgn niat yg tulus karena Allah, camkan dalam hati bahwa menikah untuk beribadah, bukan iseng-iseng dan coba-coba.

Maka semuanya perlu istikharah berkali-kali, dan jodoh itu memang ada, tak akan lari gunung dikejar. Laki-laki yang baik dan salih, Insya Allah akan dipertemukan dengan perempuan yang salihah, begitu juga perempuan yang salihah akan diberikan pasangan laki-laki yang salih juga.

Maka bagi yang belum menemukan pasangannya, jangan galau dan putus asa, Allah akan memberikan yang terbaik. Semuanya serahkan kepada Allah, sekiranya di dunia tidak menemukan, Insya Allah di akhirat kelak akan diberikan pasangan yang luar biasa.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!