Mensyukuri Al-Hafiz

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 25 Zulhijah 1439

Saudaraku, muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri salah satu asmaul husnaNya Allah, yaitu al-Hafiz

Al-Hafiz secara populis dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha memelihara dengan pemeliharaan yang sempurna. Kesempurnaan pemeliharaan Allah meliputi atas seluruh makhlukNya, hukum-hukum kausalitasnya, keberadaan dan kepentingan hamba-hambaNya.

Allah lah yang memelihara alam semesta ini dan segala yang ada dalam pengertian menjaga dan merawat dengan sebaik-baik, sehingga terjadilah keseimbangan, ketertiban dan keserasian padanya.

Allah juga zat maha memelihara makhlukNya dengan menyelamatkan, melindungi; melepaskan dari bahaya dan sebagainya, sehingga semua berjalan sesuai ketentuanNya.

Al-Hafiz disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an dalam konteks yang berbeda-beda. Di antaranya Allah berfirman yang artinya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Qs. Hud 57)

Dan tidaklah ada kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Qs. Saba 21)

Oleh karenanya mestinya kita mensyukuri Al-Hafiz, di antaranya bersyukur dalam hati, bersyukur dengan lisan, dan bersyukur dengan tindakan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah Maha Memelihara; Allah Maha Menjaga dengan penjagaan yang seksama atas semua makhlukNya.

Kedua, mensyukuri al-Hafiz dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahi rabbil’alamin, Allah senantiada memelihara kepentingan dan kemaslahatan hamba-hambaNya.

Ketiga, mensyukuri al-Hafiz dengan perbuatan nyata. Di antaranya berusaha semaksimal mungkin memelihara jiwa, agama, keluarga, harta, dan kehormatan dengan sebaik-baiknya, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Di samping itu kita juga dituntun untuk bisa memelihara diri dan keluarga dari siksa dan kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Pemeliharaan juga harus dilakukan terhadap kelestarian dan keindahan alam untuk kemaslahatan seluas-luasnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!