Mensyukuri Al-Jabbar

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 26 Zulkaidah 1439

Saudaraku, di antara sembilan puluh sembilan nama indah yang dimiliki Allah adalah al-Jabbar. Dengan al-Jabbar dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha tinggi, agung, berkuasa mutlak sehingga mau tidak mau, sadar atau tidak “memaksa” makhlukNya untuk tunduk terhadap sunnatullahNya. Tidak ada sama sekali di antara makhlukNya yang menyalahi ketentuanNya.

Oleh karena itu secara bahasa al-Jabbar dimaknai sebagai ketinggian, keagungan, keistiqamahan, kekuatan yang memaksa. Ketinggian dan keagungan Allah tidak dapat dijangkau oleh makhluk atau manusia siapapun ia. Karena kemahatinggian dan kemahaagunganNya, maka semua makhluk ciptanNya yang notabene rendah bila dibandingkan denganNya untuk tunduk patuh kepadaNya. Dari sini kemudian al-Jabbar dimaknai bahwa Allah sebagai zat Yang Maha Pemaksa, zat yang kehendakNya tidak bisa diingkari.

Allah menciptakan langit, bumi dan semua seisinya serta memerintahkannya berjalan mengikuti sunnahNya atau ketentuan atasnya. Tidak ada satupun yang menyimpang atau menyalahi sunatullahNya. Semua berjalan seperti adanya; seperti matahari terbit dari timur kecuali suatu saat nanti ketika kiamat, angin berhembus sebagai ungkapan tasbih pada Rabbnya, air mendinginsejukkan, api menghatkan atau bahkan membakar, malaikat senantiasa menyampaikan ilham kebaikan kepada hambaNya, setan mengilhamkan kejahatan ubtuk menguji manusia dan seterusnya.

Di samping itu dengan al-Jabbar, Allah juga diyakini sebagai zat yang berkuasa mengatur segala hal ikgwal nakhlukNya. Di ataranya Allah berkuasa mengaruniai kekuatan kepada hamba-hambaNya. Allah berfirman, Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Qs. Al-Rum 54)

Allah juga berkuasa menganugrahi kekuasaan atau mencabutnya dari hambaNya. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Qs. Ali Imran 26)

Allah juga kuasa mengatur soang dan malam, menghidupkan dan mematijan serta memberi rezeki keoada hamba-hambaNya. Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira. (Qs Ali Iman 27)

Nama Al-Jabbar juga disandingkan atau lebih tepatnya disetarakan dengan nama lainnya, seperti Allah berfirman Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Qs. Al-Hasr 23)

Oleh karena itu kali ini kita mengulang kaji kembali tentang akhlak mensyukuri al-Jabbar.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah zat yang maha agung dan tinggi sehingga kepatuhan makhluk, apalagi orang-orang beriman kepada ketentuanNya merupakan hal yang mutlak adanya.

Kedua, mensyukuri al-Jabbar dengan terus memujiNya dengan menyebut al-Jabbar, al-Jabbar, al-Jabbar seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil’alamin, Allah adalah yang dengan kehendakNya menganugrahi kekuatan dan kemampuan kepada kita hamba-hambaNya untuk terus memenangkan ilgam kebaikan dalam rangka menggapai keridhaanNya.

Ketiga, mensyukuri al-Jabbar dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya dibuktikan dengan menjadi pribadi memiliki akhlak yang agung dan budi pekerti yang tinggi. Dengan keagungan akhlak dan ketinggian budi pekerti menggantarkan pada maqam kemuliaan yang tak terbantahkan oleh siapapun, meskipun kita sendiri tidak berharap pujian atau apresiasi dari sesama manusia.

Di samping itu dengan keagungan akhlak dan ketinggian budi pekerti tersebut, kita menjadi dan atau diharapkan tampil suri teladan (uswatun hasanah, public figure) yang terus berusaha meneladani Rasulullah Muhammad saw dalam menjalani hudup dan kehidupan di dunia ini.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!