Mensyukuri Al-Mujib

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 2 Muharam 1440

Saudaraku, argumen mengapa manusia butuh terhadap agama di antaranya karena tuntutan fitrahnya, karena tantangan yang dihadapinya dan karena kedhaifan dirinya selaku makhluk. Oleh karenanya dalam iman Islam, kita dituntun untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Untuk menghadapi tantangan kita dituntun berdoa memohon perlindungan juga petunjukNya dan untuk mengatasi kedhaifan diri kita dituntun untuk memohon pertolongan juga kekuatan dari Allah, sehingga dapat mengemban tugas menjalani misi kekhilafan di muka bumi ini dengan baik.

Dalam konteks doa, Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firmanNya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raf 55)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak mengeraskan suara, dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS.al-A’raf: 205).

Katakanlah: “Serulah (berdo’alah kepadaku) Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Qs.Al-Isra’ 110)

Saudaraku, kita meyakini sepenuh hati semua doa kita diijabah, dikabulkan, dipenuhi oleh Allah swt. Di sinilah asmaul husnaNya Allah khususnya al-Mujib menjadi efektif dalam kehiduoan kita.

Al-Mujib secara populis dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha pengabul doa. Allahlah yang mengijabahi seluruh permohonan dari hamba-hambaNya. Allah lah yang menjawab semua keluhan hamva-hambaNya.

Term al-Mujib disebut dalam al-Qur’an, Allah berfirman yang maknanya Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)“. (Qs. Hud 61)

Oleh karenanya mestinya kita mensyukuri al-Mujib di antaranya bersyukur dalam hati, bersyukur dengan lisan, dan bersyukur dengan tindakan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah mengabulkan seluruh permohonan kita, cepat atau lambat bersesuaian dengan kondisi dan kebaikan bagi kita.

Kedua, mensyukuri al-Mujib dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahi rabbil’alamin, dengan perkenan Allah, kita senantiasa dalam naungan hidayah dan keridhaanNya.

Ketiga, mensyukuri al-Mujib dengan perbuatan nyata, yaitu memperkenankan permintaan orang-orang yang memerlukan bantuan kepada kita, selama berada dalam keridhaan Allah dan kesanggupan kita.

Di samping itu, tebtu sebagai hambaNya yang dhaif juga berdoa jepada Allah atas apapun persoalan yang kita hadapi dan cita cinta kita.

Agar doa dan permohonan diijabah oleh Allah swt, kita juga harus sadar dan tahu diri, dengan senantiasa menjaga ketaatan kepadaNya, memelihara diri dari menggunakan fasilitas atau mengonsumsi makanan minunan yang makhruh apalagi haram serta tidak berlebihan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!