Mensyukuri Al-Muqaddim

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Muhasabah 29 Muharam 1440

Saudaraku, dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini, kita mesti bijak bersikap. Ada banyak hal yang harus diprioritaskan sehingga didahulukan dan lainnya dikudiankan. Malah ketika tidak bisa menentukan mana yang harus didahulukan dan mana yang diakhirkan, karena sama-sama penting, maka kita dituntun untuk melakukan serangkaian doa dalam shalat istikharah.

Oleh karena itu, agar tetap bijak bertindak dan doa kita juga didahulukan oleh Allah swt, maka tema muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji keberkahan mensyukuri al-Muqaddim.

Al-Muqaddim dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendahulukan atas apapun berdasarkan kemahabijakanNya. Hal apapun, baik yang didahulukan maupun yang tidak adalah otoritas kemahamutlakan Allah.

Allah berfirman yang artinya, Tiap-tiap umat memunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Qs. al-A’râf: 34).

Ayat lain Allah berfirman yang artinya. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Qs. Nûh: 4).

Oleh karenanya, sebagai orang beriman, sudah selayaknya kita mengembangkan sikap mensyukuri al-Muqaddim baik dengan hati, lisan maupun petbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Muqaddim di hati dengan meyakini bahwa Allah mendahulukan kepentingan hamba-hambaNya daripada makhluk lainNya. Allah mendahulukan kepentingan di antara hambaNya atas selainnya karena suatu alasan yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Kedua, mensyukuri al-Muqaddim secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan memuji dengan asmaNya. Dengan al-Muqaddim, senoga kita dapat memilah memilih mana yang prioritas mana yang bukan, mana yang hajitat, mana yang dharuriat dan mana yang tahsiniyat. Di samping itu, dengan memuji al-Muqaddim semoga Allah memasukkan kita kepada orang-orang yang diutamakan untuk diijabah doanya.

Ketiga, mensyukuri al-Muqaddim dengan perbuatan nyata, di antaranya nengutamakan apa saja yang harus diutamakan menurut tuntunan syar’i.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!