Mensyukuri Al-Muqtadir

Muhasabah 28 Muharam 1440

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah mengulangkaji keberkahan mensyukuri asmaul husnaNya Allah yang ketujuhpuluh, yaitu al-Muqtadir.

Secara terminologi, Al-Muqtadir memiliki asal kata yang sama dengan al-Qaadir asmaul husnaNya Allah yang keenampuluh sembilan tema muhasabah yang baru lalu, yaitu qadara dan darinya muncul qudrah. Bila al-Qaadir dimaknai bahwa Zat Allah lah yang memiliki qudrah atau kemampuan, maka al-Muqtadir untuk lebih menyatakan bahwa kemampuan, kekuasaan atau qudrah Allah tidak ada batasnya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingannya.

Allah berfirman dalam al-Quran yang artinya, Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Al-Kahfi 45)

Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancam kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka. (Qs. Al-Zukhruf 42)

Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diurunkan kepadanya (Muhammad) sesuatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah:”Sesungguhnya Allah Kuasa menurunkan sesuatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. Al-An’aam 37)

Di tempat lain, Allah berfirman yang maknanya, dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (Qs. Al-Israa’ 99)

Oleh karenanya, sebagai orang beriman, sudah selayaknya kita mengembangkan sikap mensyukuri al-Muqtadir baik dengan hati, lisan maupun petbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Muqtadir di hati dengan meyakini bahwa kekuasaan Allah atas segala yang ada adalah mutlak, tidak ada sandingan, bandingan atau tandinganNya.

Kedua, mensyukuri al-Muqtadir secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan memuji dengan asmaNya.

Dengan memuji al-Muqtadir semoga Allah menganugrahi qudrah atau kemampuan kepada kita untuk mengerjakan segala titah Allah dan meninggalkan segala laranganNya.

Ketiga, mensyukuri al-Muqtadir dengan perbuatan nyata, di antaranya dengan berusaha menggunakan kemampuannya hanya untuk kemaslahatan saja.pp

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!