Mensyukuri Al-Qawiy

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 11 Muharam 1440

Saudaraku, secara ideal Islam menghendaki umatnya tanpil menjadi umat yang kuat dan tidak menginginkan umatnya lemah. Kekuatan yang harus diusahakan dan dimiliki oleh umat Islam adalah kekuatan dalam bidang keimanan, kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan sains dan teknologi dan kekuatan dalam bidang fisik jasmaninya.

Dengan kuat iman, kuat ilmu dan kuat fisiknya, akan mempengaruhi terwujudnya kekuatan dalam sektor lainnya seperti kekuatan ekonomi, politik, sosial budaya, persatuan dan kesatuan, pendidikan, pertahanan dan keamanannya, dan kekuatan pada sektor-sektor lainnya. Dan dengan kekuatan dalam seluruh aspek kehidupan ini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan dan kemakmuran umat Islam, serta kemajuan peradabannya.

Sebaliknya, ketika iman, ilmu dan fisiknya lemah, maka akan berpengaruh pada kelemahan di seluruh sektor kehidupan. Konsekuensinya kemudian akan menjadi umat yang terjajah oleh bangsa atau umat yang lebih kuat. Oleh karenanya betapa pentingnya kita berdoa, belajar dan berusaha agar menjadi orang yang kuat dan umat yang kuat. Untuk itu, muhasabah hari ini kita akan mengulang kaji tentang keberkahan nensyukuri al-Qawiy.

Al-Qawiy dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha kuat nan perkasa, yang kekuatanNya tidak ada ada bandingan, yang keperkasaanNya tidak ada saingannya.

Dengan kekuatanNya, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan seluruh yang makhlukNya yang berjiwa; Allah menguasai segala yang ada, Allah melindungi hamba-hambaNya, Allah mencurahkan rezeki untuk semua makhlukNya, Allah mengijabah semua permohonan yang disampaikan kepadaNya.

Allah berfirman dalam al-Quran yang maknanya Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Qs. Al-Syu’ara 19)

Dan, Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Qs. Al-Syu’ara 19).

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Qawiy baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, bersyukur di hati dengan meyakini bahwa Allah adalah zat yang maha kuat perkasa, yang dengan kekuatanNya menanggung dan memenuhi seluruh kebutuhan kita dan hamba-hamba yang dikehendakiNya. Allahlah yang menolong di saat kita memerlukan pertolongan. Allah yang mengabulkan permohonan yang kita sampaikan, Allah yang memenuhi seluruh hajat kebutuhan kita, dan Allah tempat kembali seluruh kesadaran dan eksistensi kita semua. Di samping itu, kita juga harus meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah sumber kekuatan, sehingga kita dituntun untuk sering berdoa dengan melafalkan laquwata illa billahi, tiada kekuatan dan daya upaya kecuali dari dan bersama Allah.

Kedua, bersyukur dengan lisan, yaitu dengan terus memujiNya dengan asma al-Qawiy dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Dengan sering memujiNya, kita berharap dianugrahi kekuatan iman, sehingga kita senantiasa dalam kondisi tentram dan bahagia. Dengan sering memujiNya, kita berharap dianugrahi kekyatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menegakkan peradaban yang tinggi nan adi luhung. Dengan sering memujiNya, kita berhatap dianugrahi kekuatan fisik jasmani sehingga mampu beribadah dengan sempurna.

Ketiga bersyukur dengan langkah konkret, di antaranya dengan terus belajar dan memperkuat diri, baik dari aspek fisik jasmani, akal pikiran maupun hati spiritualitasnya. Dengan kekuatan yang dimiliki, kita dapat mengayomi dan memberi bantuan kepada diri sendiri, keluarga bangsa dan negara, bahkan agama.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!