Mensyukuri al-Qayyum

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 21 Muharam 1440

Saudaraku, kemandirian dalam hidup, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial politik, dan budaya menjadi dambaan setiap orang, setiap kelompok masyarakat, setiap bangsa dan negara di manapun berada. Demikian juga kemandirian bersikap dan berperilaku dalam kehidupan ini. Oleh karena itu tema muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri asmaul husnaNya Allah yang relevan dengan kemandirian, yaitu al-Qayyum.

Al-Qayyum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mandiri. Allah mandiri dengan sendirinya, baik zatNya, sifatNya maupun af’al atau perbuatanNya. Allah tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, justru tempat bergantung apapun dan siapapun.

Para ulama memberi penegasan bahwa al-Qayyum dapat dimaknai dengan dua makna. Pertama, Allah adalah zat yang maha mandiri, Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan justru malah membantu, tidak memerlukan sesuatu justru malah diperlukan oleh hamba-hambaNya.

Kedua, Allah adalah zat yang maha mengatur dan memenuhi hajat makhlukNya. Seluruh yang ada di alam ini teratur karena diatur oleh Allah. Semua manusia membutuhkan Allah, dari sejak penciptaannya hingga kapanpun jua.

Allah berfirman yang artinya katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (Qs. al-Anbiya:42)

Di tempat lain Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fathir: 41)

Dalam hal al-Qayyum Allah berfirman yang artinya Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah 9meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Qs. Al-Baqarah 255).

Oleh karena itu sudah seharusnya kita sebagai orang beriman berusaha mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Qayyum, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati kita lakukan dengan benar-benar meyakini bahwa Allah maha mandiri dalam segala hal. Dan selain Allah adalah makhluk ciptaanNya yang seandainya memiliki kemandirian, maka kemandirian itu adalah karunia Alkah taala.

Kedua, mensyukuri al-Al-Qayyum dengan lisan kita melakukannya dengan memujiNya dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin, semoga Allah memberikan kemandiran dalam hidup ini. Mandiri dalam berperilaku sehingga tidak terkekang dan atau dikendalikan oleh hawa nafsu atau setan.

Ketiga, mensyukuri al-Qayyum dengan perbuatan nyata seperti terus berusaha mandiri; mandiri dalam segala hal. Kita berusaha mandiri secara ekonomi dengan memenuhi seluruh kebutuhan diri dan keluarga, tidak bergatung pada belas kasihan orang lain. Begiti juga dalam sosial dan budaya, kita berpegang pada budaya kita yang adiluhung warisan orangtua kita.

Secara personal, kita juga harus mandiri dalam perilaku, jangan sampai dikendalikan oleh hawa nafsu dan apalagi setan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!