Mensyukuri Al-Rasyid

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 26 Safar 1450

Saudaraku, dalam khazanah sejarah peradaban Islam, pasca nubuwah kita mengenal kepemimpinan yang dipegang oleh Khulafa” Rasyidun, empat kekhalifahan yang terbimbing oleh wahyu yaitu masa Khalifah Abubakar al-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khathab, Khalifah Usman bin ‘Affan, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang berlangsung sekitar tigapuluh tahun saja.

Setelah masa itu rasanya sistem kekhalifahan yang terbimbing (al-rasyidun) tak pernah berulang dan terjadi lagi di pentas sejarah seiring dengan pergantian sistem kepemimpinan monarkhis yang sangat kental mengedepankan silsilah nasabnya, darah biru. Meski tetap menggunakan istilah kekhalifahan dan khalifah pada pemerintahan Bani Umayah, Bani Abbas dan bani-bani lainnya, hanyalah untuk “menghibur” atau lebih tepatnya melegitimisasi kepentingan politiknya saja agar mendapat ketaatan penuh dan sempurna dari umat Islam, sejatinya telah dimulainya berlakunya sisten kerajaan, sehingga ada raja, misalnya Raja Muawiyah, Raja Yazid dan seterusnya.

Secara umum, sejatinya setiap orang Islam menginginkan berada dalam sistem kepemimpinan yang terbimbing oleh wahyu, sehingga memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan sejak hidup di dunia ini, dan apalagi di akhirat nanti.

Demikian juga dalam mengarungi hidup ini, setiap kita pasti menginginkan keterbimbingan oleh Allah kepada jalan yang benar, sehingga memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Oleh karena itu, agar kita terbimbing untuk memilih para pemimpin yang termbimbing kepada kebenaran dan hidup kita juga terbimbing oleh Allah, maka tema muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri asmaul husnaNta Allah yang relevan dengan keterbimbingan, yaitu Allah al-Rasyid.

Al-Rasyid secara bebas dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha menunjuki pada jalan yang benar. Allah lah zat yang maha pembimbing yang memberi bimbingan pada kebenaran.

Allah berfirman yang artinya, Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Qs. Al-Kahfi 17)

Oleh karenanya layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri al-Rasyid baik dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Rasyid di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah zat yang maha membimbing ke jalan kebenaran.

Kedua, mensyukuri al-Rasyid di lisan dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhaiNya.

Ketiga mensyukuri al-Rasyid dengan perbuatan nyata dengan hidup mengikuti aturan yang telah disyariatkan oleh Allah, sehingga terbimbing menuju kepada kebahagiaan hidup.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!