Mensyukuri Al-Ra’uf

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 11 Safar 1440

Saudaraku, secara umum terdapat dua realitas yang menggambarkan kondisi kehidupan yang dialami oleh manusia, yaitu kehidupan yang menyenangkan dan sebaliknya. Seperti terang dan gelap atau siang dan malam, setali mata uang.

Di saat menyaksikan atau membaca atau mendengar kabar tentang kehidupan seseorang yang sukses, makmur dan penuh bahagia, rasanya di hati juga nyaman nan bahagia. Apatah lagi kondisi seperti ini dialami oleh orang-orang yang kita kenal, orang-orang terdekat dan orang-orang yang kita sayangi, sanak saudara, anggota keluarga kita, anak-anak dan cucu-cucu keturunan kita.

Sebaliknya, rasanya sesak di dada dan berat-berat nafas kita ketika menyaksikan atau membaca atau mendengar kisah kehidupan yang memilukan dari sesama kita atau orang-orang terdekat dengan kita. Saat mengetaui saudara-saudara kita mengalami musibah tertentu, atau hidupnya terlunta-lunta, tentu timbul empati dan simpati untuk kemudian turut membantu sesuai kemampuan yang ada.

Nah, agar hati kita terasah untuk memiliki kepekaan sosial tinggi dan hati bisa merasa apa yang orang lain rasa, serta berharap agar Allah berwelas asih (belas kasih) kepada kita, maka muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri asmaul husnaNya Allah yang relevan dengannya, yaitu Allah al-Ra’uf.

Al-Ra’uf secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha welas asih. Allah maha mengetahui keadaan hamba-hambaNya dan maha memenuhi segala hajad dan kebutuhannya, meskipun tidak diminta oleh yang bersangkutan sekalipun. Apalagi bagi hamba-hambaNya yang mau memohon pertolonganNya.

Dalam konteks al-Ra’uf, Allah berfirman yang artinya, Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan kamu). Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada manusia. (Qs. Al-Baqarah 143)

Sesungguhnya Allah talah menerima taubat nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang kepada mereka, (Qs.Al-Taubah 117)

Oleh karena itu sudah seharusnya sebagai orang Islam, kita mengembangkan akhlak mensyukuri al-Ra’uf, baik dengan hati, dengan lisan maupun dibuktikan dengan perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari

Pertama, mensyukuri al-Ra’uf di hati dengan meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah Zat Maha Welas Asih. Welasnya Allah kepada keadaan hamba-hambaNya bersinergi dengan curahan karuniaNya, sehingga hamba-hambaNya memperoleh kebahagiaan baik di dunia msupun akhirat kelak.

Kedua, mensyukuri al-Ra’uf dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil’alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah terus menganugrahkan karuniaNya kepada kita, bahkan keberkahannya tak disangka-sangka sebelumnya.

Ketiga, mensyukuri al-Ra’uf dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menjadi pribadi yang memiliki empati, memiliki hati yang bisa merasa terhadap keadaan dan kesulitan sesamanya. Dan dibuktikan dengan peduli dengan turut meringankan beban dan kesulitan sesamanya sesuai kemampuannya.

Kita mesti yakin bahwa menutupi kekurangan sesama, maka Allah akan menutupi kekurangan kita.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!