Mensyukuri Al-Syahid

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 8 Muharam 1440

Saudaraku, kita sudah sampai pada asma Allah yang kelimapuluh dari asmaul husnaNya Allah yang menjadi bahan renungan muhasabah hari ini. Asma Allah dimaksud adalah al-Syahid.

Al-Syahid dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Menyaksikan. Allah adalah zat yang menyaksikan apapun yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Oleh karenanya, Allah mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya baik perbuatan itu besar ataupun kecil, baik perbuatan yang lalu, kini maupun yang akan dilakukan.

Allah berfirman yang maknanya, Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Qs. Hud 16 -18)

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”. Qs. Al-An’am 17 -19

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Qs. Al-Nisa 79)

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Syahid, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, bersyukur di hati dengan meyakini bahwa Allah pasti menjadi saksi atas apapun yang kita inginkan, yang kita niatkan, dan yang kita lakukan. Oleh karenanya, seluruh keinginan, niat, ucapan, dan perbuatan kita hendaknya dalam kebaikan guna menggapai keridhaanNya.

Kedua, bersyukur dengan lisan, yaitu dengan terus memujiNya dengan asma al-Syahid dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Dengan terus memujiNya, kita merasa selalu dalam kepengawasan Allah, muraqabatullah. Dengan muraqabatullah, kita berada dan berusaha hanya dalam kebaikan saja.

Ketiga, mensyukuri al-Syahid dengan tindakan konkret. Di antaranya selalu dalam keadaan ihsan; berniat ihsan, berfikir ihsan, dan berbuat ihsan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!