Mensyukuri Alam

Gema, 20 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, dengan kemahamurahanNya, Allah telah mentakdirkan kita lahir dan hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi, negeri yang memiliki kekayaan alamnya melimpah ruah dan banyak ragamnya. Tanahnya subur dan makmur.

Untuk menggambarkan kesuburmakmuran alam di negeri ini, Koes Plus sampai bersenandung “Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Perut buminya menyimpan aneka kekayaan, sehingga ada tambang sejak bebatuan sampai berlian, tambang minyak dan gas bumi. Keindahannya mengundang decak kagum bagi yang pandai mentadaburinya.

Oleh karena itu, mari kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri alam.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa alam ini adalah anugrah sekaligus amanah yang dititip kepada setiap hambaNya untuk dikelola demi kepentingan seluas-luas bagi kehidupan manusia.

Kedua, mengucapkan terima kasih dan syukur alhamdulillah kepada Allah atas segala nikmat karunia alam yang diterimanya.

Ketiga, menjaga kekestariannya. Memang benar, bahwa alam ini dicipta untuk kepentingan manusia, tetapi mesti diingat bahwa yang namanya manusia itu bukan kita saja dan bukan yang hidup di masa sekarang saja, tetapi juga sebelum dan sesudah kita yakni untuk anak cucu buyut cicit dan keturunan kita seterusnya. Dan semua manusia, baik sekarang maupun masa datang, hidupnya ya di alam yang sama yaitu alam ini, tidak di rembulan atau planet lainnya.

Oleh karenanya, menjaga kelestarian alam adalah kebutuhan yang niscaya, sehingga kita dapat mewariskannya untuk anak cucu kita sebagaimana kita telah newarisi dari ayah ibu dan endatu kita sebelumnya.

Keempat, menjaga keasriannya. Bila tidak mampu menata dan menciptakan keasrian alam, maka minimal tidak merusak keindahan yang sudah ada. Karena alam dengan sunatullahnya berjalan secara alamiah, tumbuh berkembang melahirkan keasriannya sendiri. Manusia tinggal menjaga kelestariannya dan mengagumi penciptaNya.

Kelima, memanfaatkannya untuk mendukung ketaatannya pada Allah. Kekayaan alam dan keindahannya selayaknya dikelola dan dimanfaatkan untuk segala keperluan dan hajad manusia dalam rangka menyempurnakan pengabdiannya pada Allah swt. Alam tidak boleh dieksploitasi untuk kepentingan pribadi dan sesaat saja.

Kita dapat hidup dan beribadah dengan nyaman tanpa gangguan binatang buas seperti harimau, singa, gajah arau lainnya, karena kita tidak membuka lahan dengan merusak habitat mereka.

Kita bisa menghirup udara segar setiap hari sehingga hidup dan beribadah pun enak, karena kita memelihara keasrian lingkungan yang hijau karena tetumbuhan dan rerumputan yang rapi tertata.

Badan kita sehat dan bugar terhindar penyakit endemik sehingga dapat beraktivitas yang bermakna dalam menjalani kehidupan ini, lantaran kita berperilaku heigenis dan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyumbat got, membersihkan saluran air dan tidak mencemari air sungai atau lautan dengan sampah atau limbah berbahaya lainnya.

Kita dapat bernafas lega sepanjang hari sehingga dapat mencari nafkah untuk keluarga, lantaran kesadaran menjaga lingkungan dan alam telah menjadi budaya keadiluhungangan bangsa.

Lalu menjadi pantas bila Allah menyindir dengan bertanya “maka karunia Allah apa lagi yang kamu dustakan?” Mari kita istighfar dan bermuhasabah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!