Mensyukuri Ayat Kauniah

Gema, 06 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 22 Syawal 1439

Saudaraku, di samping ayat qauliah yang termaktub dalam Al-Qur’an yang berjumlah sekitar 6.000, Allah juga meciptakan alam yang dibentangkan, baik alam besar (alam kabir, makro kosmos, dunia seisinya) maupun alam kecil (alam shaghir, mikro kosmos, diri manusia). Alam ini juga disebut sebagai ayat (yaitu ayat kauniah) karena alam juga merupakan tanda atau keajaiban yang mengantarkan orang-orang yang mencerdasi atau mentadaburinya kepada tujuan hakikinya yaitu Allah (baca makrifatullah).

Ayat kauniah termanifestasikan dalam dua wujud, yaitu alam besar (makro kosmos) berupa dunia ini seisinya, dan alam kecil (mikro kosmos) mewujud dalam diri manusia. Mengapa manusia sebagai alam kecil, karena sejatinya ia adalah miniatur jagad raya ini.

Coba renungperhatikalah apa yang ada di jagad raya ini sebagai makro kosmos yang tidak terepresentasikan pada diri manusia sebagai mikro kosmos. Dilihat dari jenisnya, kalau di alam raya ini ada tanah, air, udara, api, rumput, pohon, batu karang, gunung, sungai, kebun, lapangan, lautan sampai benteng yang kuat terkunci, maka pada diri manusia juga ada unsur itu semua.

Coba renungperhatikanlah diri kita, padanya tersimpan unsur tanah, cairan juga darah, rongga udara, bisa terasa hangat bahkan panas meriang, ada rambut halus bak rerumputan dan ada rambut lebat bak kebun atau hutan sementara yang lain tandus gersang sehingga tidak tumbuh apapun jua, ada tulang-tulang bak batu karang atau bahkan seperti gunung yang menjulang, ngarai sungai aliran urat nadi dan sirkulasi darah, terdapat dada bak lapangan terbuka, ada perut bak lautan yang apa dan siapapun dapat dilarutkan sampai adanya hati yang terkunci.

Adapun dilihat dari sifatnya, di makro kosmos ini ada bebatuan yang diam seribu bahasa, ada tetumbuhan yang terus tumbuhkembang dan berbuah, ada binatang yang selalu makan tidur dan beranak pinak, ada setan yang selalu mengganggu dan menyesatkan sampai ada malaikat yang senantiada taat dan beribadah.

Coba renungperhatikan pada diri manusia! Bukankah sebagian atau semua sifat itu bisa menjelma pada dirinya. Pernahkan kita bertemu dengan seseorang yang berlaku seperti batu, berkepala batu; matanya mendelik dan tidak bergeming meski secara baik-baik dinasehati. Ada perilaku manusia seperti tetumbuhan atau bahkan hewan ternak yang kerjanya hanya makan tidur dan beranak pinak, ada manusia berhati singa. Ada pula manusia berperilaku jahat seperti setan yang sukanya mengganggu, mengadu domba dan menyesatkan. Namun ada juga banyak manusia berperilaku laksana malaikat yang turun ke bumi, mereka membawa rahmat, menginspirasi kebajikan, persaudaraan, kedamaian dan senantiasa menebar kemaslahatan.

Coba renungpikirkan ruang angkasa yang bersaf-saf berlapis-lapis langitnya hingga tujuh petala, sehingga kita mengenal tujuh petala langit. Betapa luasnya langit sebagai petala demi petala yang membentang tak bertepi sehingga diri ini terasa bagaikan debu dalam hamparan pasir nan luas.

Nah sekarang bercermin dan perhatikanlah diri kita terutama di bagian kepala. Apa yang anda pikirkan? Tentu saja saya dan orang selain anda hanya mengira-ngira jawabannya. Saat anda membaca artikel muhasabah saya ini, apa yang terlintas dalam cakrawala luasnya talenta di kepala anda. Anda boleh saja membayang-mbayangkan apa saja, mengingat-ingat apapun juga, memikir-mikirkan sesuka anda, berimajinasi, berfantasi, berintuisi atau bahkan melamun sejadi-jadinya, yang kesemua aktivitas otak ini tak ada batas cakrawalanya seperti petala langit yang tak bertepi. Inilah tujuh petala kekuatan akal dalam kepala manusia yang tak terbatas penuh talenta.

Kabarnya pada otak dalam kepala manusia tersimpan trilyunan neuron dan setiap neuronnya saja terdiri ribuan sel yang ketika satu sel saja dengan kreativitas dirinya sehingga bersinggungan dengan sel lainnya akan menghasilkan ide, gagasan atau percikan pemikiran yang luar biasa. Apakah ini bukan kemahamurahan Allah atas hambaNya? Lalu apa lagi yang menghalangi untuk selalu bersyukur, bersimpuh ke haribaan Ilahi?

Semua itu baru pembacaan kreatif atas lahiriah diri manusia, belum lagi dari aspek sikap dan perilakunya. Dari sikap dan perilaku kejiwaannya lahir (disiplin) ilmu jiwa/psikologi, dari cipta rasa dan karsanya lahir ilmu budaya/antropologi, dilihat dari interaksi dengan sesamanya lahir ilmu sosial/sosiologi, dari catatan masa lalunya lahir ilmu sejarah/tarikh, dari setting sosialnya lahir historiografi, dari cara memengaruhi sesamanya atau memenuhi ambisinya lahir ilmu politik, dari cata berbangsa dan bernegara lahir ilmu ketatanegaraan, dari cara memelihara nilai-nilai yang dipeluknya lahir ilmu pendidikan, dari cara merawat dirinya lahir ilmu kesehatan atau keperawatan, dari cara mengadili perilaku sesamanya lahir ilmu hukum, dari cara mengajak ke jalan yang benar lahir ilmu dakwah dan komunikasi, dari cara memenuhi kebutuhannya lahir ilmu ekonomi, dari cara membangun rumah atau lainnya lahir ilmu teknik, dari cara menghitung lahir matematika, dari cara mempertahankan diri dari serangan musuh lahir ilmu bela diri, dari cara menyusun tutur katanya lahir ilmu bahasa, dari cara memasak dan merias diri lahir tata boga, dari segi memperindah suara dan dunianya lahir ilmu kesenian, dari segi beda kelamin dan pemenuhannya timbul seksiologi, dari cara mengelabui pandangan mata sesamanya lahir ilmu sulap/ilmi sihir, dari segi kejahatan perilakunya lahir kriminologi. Dan seterusnya dan seterusnya.

Di samping itu pembacaan kreatif atas alam sekitar juga melahirkan ilmu pengetahuan, seperti ilmu tanah, ilmu air, ilmu iklim (klimatologi), ilmu hayat (biologi), ilmu binatang, ilmu perhutanan, ilmu pertanian, ilmu pertambangan, ilmu kelautan, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu perbintangan, dan setetusnya dan seterusnya.

Oleh karena itu layak bagi kita mengembangkan akhlak dalam mensyukurinya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa alam ini (semesta dan manusia) juga merupakan tanda atau ayat (kauniah) yang dengan mencerdasi atau mentadaburinya akan menyampaikan kita pada Allah, Sang Penciptanya, meskipun seringkali jalannya berliku. Berbeda dengan ayat qauliah yang dengannya bagaikan “jalan tol” menuju Rabbnya.

Kedua, mensyukuri dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin agar Allah menambah karunia-karunia lainnya terutama tambahan pemahaman dan penguasaan atas pembacaan ayat kauniah ini sehingga aras pengembangan ilmu-ilmu aqliah dapat dikukuhkan untuk kemaslahatan makhluk di bumi.

Ketiga, mensyukuri ayat kauniah dengan tindakan konkret, yaitu membacanya dengan pembacaan yang kreatif, sehingga penguasaan dan pengembangan ilmu-ilmu aqliah dapat dilakukan sebagaimana masa Islam Klasik yang menghegemoni kecermelangannya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!