Mensyukuri Bulan Baru

Gema, 02 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di negeri ini, bulan baru itu identik dengan gajian. Berawal dari realitas, memang, bila bulan baru ya isi kantong baru atau saldo rekening baru, maka akan melahirkan suasana baru atau bahkan semangat baru yang tidak bisa disembunyikan oleh banyak kalangan. Apalagi bagi yang mengelola uang bulanannya tidak begitu cermat, sering pertengahan bulan saja sudah habis, makanya defisit di akhir bulan.

Namun intinya, bulan baru tetap saja ditunggu-tunggu. Meskipun ada yang gajian pada akhir pekan atau akhir bulan, namun suasana bulan baru tetap membawa pesona tersendiri dan menawarkan sejuta harapan. Betapa tidak, beberapa kebutuhan harus ditahan; beberapa keperluan harus ditangguhkan sampai datangnya bulan baru.

Oleh karena itu, layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri bulan baru atau saatnya gajian tiba.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa gaji atau penghasilan adalah karunia sekaligus amanah dari Allah atas hambaNya sesuai dengan ikhtiar, doa dan garisan tangan masing-masing hamba.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah saat bulan baru atau saat gajian tiba atau saat mengecek saldo tabungannya bertambah. Gaji atau penghasilan adalah karunia Allah, sedangkan besar atau kecil jumlahnya, itu hal lain. Karena, baik yang berpenghasilan banyak maupun yang sedikit, tetap bisa cukup; yang incomenya banyak, tapi tidak berlebih, dan yang incomenya sedikit tapi tidak kurang suatu apapun. Ajaib bukan? Itulah rahasia keberkahan.

Ketiga, akhlak Islam menuntun kita agar mengutamakan dalam membelanjakan gaji atau penghasilannya pada jalan Allah, seperti untuk haji, umrah, membayar zakat, wakaf, infak, sedekah, menyediakan beasiswa dan nafkah keluarga. Di sinilah letaknya bahwa harta adalah amanah. Sesiapa yang amanah maka rezeki dari Allah akan terus diterimanya tanpa diduga-duga waktu dan jalannya.

Keempat, memanfaatkan gaji atau penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai sekala prioritasnya, yaitu kebutuhan dharuriat (kebutuhan primer), baru hajiyat (kebutuhan skunder) dan baru tahsiniyat (kebutuhan tertier, pelengkap demi kenyamanan hidup).

Kelima, tidak berlaku boros apalagi terjebak pada perilaku materialistik hedonik. Perilaku boros adalah membelanjakan gaji atau penghasilannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi merugikan seperti untuk membeli rokok lalu dibakarnya dihisap asapnya dirasakan racun di jantungnya dan pasti memubazirkan uangnya.

Perilaku materialistik hedonistik dimaksudkan sebagai perilaku membelajakan gaji atau penghasilannya untuk mengejar dan memenuhi kesenangan atau kegelamoran materi duniawi belaka, seperti gonta ganti hp terbaru, gonta ganti mobil, plesir dan belanja pakaian atau tas ke kota besar atau bahkan ke Singapore atau ke Hollywood dan sejenisnya.

Bilapun gaji atau penghasilannya cukup untuk memenuhi keinginan materislistik hedonistik tersebut, tetap saja dinilai berlebihan, sehingga tidak etis, kontra akhlak al-karimah. Apatah lagi bila gaji atau incomenya tidak mencukupi untuk keperluan memenuhi keinginan materialistik hedonistiknya, niscaya besar pasak daripada tiangnya.

Bagaimana tidak, seseorang yang berpenghasilan setara staf (katakanlah Rp 2.000.000), tetapi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhannya setara dengan pimpinannya (Rp 3.000.000). Bila perilaku materiakistik hedonistik ini terjadi, maka seberapapun gaji dan incomenya tetap tidak akan pernah cukup.

Bagaimana supaya cukup bahkan berlebih karena keberkahannya? Kuncinya utamakan membelanjakannya pada jalan Allah, syukur-syukur berpenghasilan setara pimpinan, namun pengeluaran dan kebutuhannya setara staf.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!