Mensyukuri Harta Warisan

Gema, 13 Mei 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di samping persoalan nafkah, terdapat persoalan lain yang juga acap kali menimbulkan masalah dalam internal keluarga, yaitu persoalan harta warisan.

Merujuk pada batasan di wikipedia bahasa indonesia disebutkan bahwa harta warisan yang dalam istilah fara’id dinamakan tirkah (peninggalan) adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa uang atau materi lainya yang dibenarkan oleh syariat Islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.

Sejatinya dalam Islam dalam hal ini tertera dalam Al-Qur’an dan Hadis sudah mengatur tentang harta warisan, siapa yang disebut ahli waris, dan pembagiannya untuk masing-masing secara adil dan proporsional, namun karena tingkat keimanan, ilmu pengetahuan, interes dan sikap yang berbeda-beda antar anggota keluarga, maka sering terjadi hal-hal yang justru kontra syariat.

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS An-Nisaa : 11

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. QS An-Nisaa : 12.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS An-Nisaa : 32

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. QS An-Nisaa : 33.

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS An-Nisaa : 176.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengingat kembali tentang tuntunan akhlak mensyukuri harta warisan.

Pertama, bersyukur dengan meyakinini sepenuh hati bahwa harta warisan adslah amanah dari Allah yang harus ditunaikan dengan mengikuti aturan Allah.

Kedua bersyukur dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin atas karunia Allah melalui karunia yang telah dianugrahkan kepada orangtua dan keluarga kita.

Ketiga, sebagai anak atau anggota keluarga dituntun untuk menunaikan kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua atau anggota keluarga lainnya tetapi belum dilakujan saat hidupnya. Misalnya kewajiban melunasi hutangnya, melaksanakan wasiatnya selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Keempat, mengedepankan musyawarah, saling asah asih dan asuh antar anggota keluarga. Seiring dengan ini tidak etis rasanya “berebut” harta warisan yang dapat mengusik kebahagiaan orangtua atau keluarga yang sudah menghadap kepada Allah ta’ala, yang masih beristirahat di alam barzah.

Termasuk tindakan tidak etis di sini antara lain menggelapkan harta warisan, menjual harta warisan untuk kepentingan sendiri, mau menang sendiri dan mendapat bagian banyak sendiri alias serakah.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!