Mensyukuri Hegemoni Islam

Gema, 07 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 23 Syawal 1439

Saudaraku, dalam sejarah kemanusiaan terdapat beberapa peradaban yang dipergilirkan tampil menghegemoni di zamannya masing-masing seperti peradaban Mesir Kuno, India Purba, Tiongkok Kuno, Persia, Yunani, Romawi, Islam, dan Barat. Mengapa peradaban suatu bangsa dapat maju berkembang lalu surut dan mati serta digantikan oleh peradaban bangsa atau umat lain. Inilah di antara sunatullahNya yang berlaku atas kehidupan ini.

Dalam konteks peradaban Islam, pilar-pilarnya dimulai dibangun oleh Nabi Muhammad saw, kemudian terus berkembang pada masa-masa berikutnya, sehingga kita mengenal Era Khulafaur Rasyidun, Era Bani Umayah, Era Bani Abbas, Era Islam di Andalusia, Turki Usmani, Persia, India, Aceh Darussalam dan seterusnya.

Tentang kejayaan, kemunduran dan kehancuran suatu bangsa, Allah berfirman Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Qs. Ali Imran 140)

Oleh karenanya kita layak mensyukuri sejarah dan hegemoni peradaban Islam.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kemajuan dan kemunduran suatu peradaban adalah sunnatullah yang berjalan di atas hukum-hukumnya yang sangat rapi. Terdapat faktor yang sangat kuat yang mensuport maju berkembangnya peradaban, baik secara internal maupun eksternal, seperti civitas warganya yang berpegang pada nilai-nilai keadiluhungan. Di samping itu juga dipimpin oleh pemimpin yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, aceptabilitas. Namun ketika nilai-nilai keadiluhungan ini mulai ditinggalkan, maka perlahan tapi pasti kemunduran dan kehancurannya menanti.

Kedua, mensyukuri kecermerlangan peradaban Islam dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin atas karunia peradaban yang sarat dengan nilai-nilai keadiluhungan yang dicapai oleh umat Islam.

Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata. Di antaranya menjadikan sejarah kegemilangan dan kemajuan peradaban Islam sebagai ibrah kehidupan. Dengan sejarah kita mengetahui mengapa dan faktor apa saja yang menyebabkan kemajuan dan kemundurannya, sehingga kita dapat mengambil pelajaran untuk dapat berbenah agar dapat meraih kejayaan di masa kini dan masa datang.

Dengan demikian, tidak bersikap apologis senata dengan membangga-banggakan kemajuan peradaban masa silam namun tidak dibarengi dengan usaha konkret untuk belajar dan berusaha meraih kemajuan di masa kini dan datang.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!