Mensyukuri Israk Mikraj

Gema, 14 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, bila tahun kesebelas kenabian, Nabi Muhammad saw diisrakmikrajkan oleh Allah sebagai wisata spiritual dan terapi ilahiah atas problema dan kesedihan yang dialami nabi, maka hari ini merupakan ulang peringatan israk mikraj yang ke -1440.

Karena perolehan israk mikraj adalah disyariatkannya shalat fardhu lima kali sehari semalam bagi seorang muslim, maka shalat sebagai wisata spiritual dan terapi ilahiah atas segala masalah dan kesedihan sekaligus merupakan mikrajul mukminin telah mewarnai sejarah peradaban Islam.

Dikatakan sebagai wisata spiritual, karena saat israk mikraj Nabi Muhammad saw diperjalankan dan diwisatakan dari Makkah al-Mukaramah di Madjidil Haram ke masjidil Aqsha di Pslestina, kemudian dinaikkan ke Sidratil Muntaha.

Dan dikatakan sebagai terapi ilahiah, karena shalat sebagai perolehan israk mikraj yang dilatari oleh beragam problema dan kesedihan nabi, maka shalat menjadi solusi dan penawar hati.

Dikatakan mikrajul mukminin, karena saat shalat, seorang hamba melalukan tarakhi naik melangit beraudensi dengan Allah secara langsung dan kemudian menebar kemaslahatan di bumi.

Oleh karena itu, hari ini mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri israk mikraj.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa israk mikraj merupakan mukjizat yang dianugerahkan oleh Allah kepada rasul utusanNya, Nabi Muhammad saw. Karena mukjizat, sebagaimana mukjizat-mukjizat yang telah diberikan oleh Allah kepada nabi-nabi sebelumnya, seperti kapalnya Nabi Nuh, tidak mempannya Nabi Ibrahim dari kobaran api Raja Namrud, tongkatnya Nabi Musa yang bisa membelah lautan merah menjadi jalan tol yang siap dilewati Nabi Musa dan pengikutnya dan seketika tongkatnya menjadi naga yang melahap habis ular-ular buatan para penyihir Raja Fir’aun, kemampuan Nabi Isa dalam menyembuhkan mata yang buta atau kemampuan menghidupkan orang yang telah mati atas izin Allah, maka mestinya dikedepankan adalah intuisi di mana hati meyakini dan mengimani kebenarannya. Persoalan mukjizat lebih dekat di hati kemudian pembuktiannya dibantu oleh rasionalitas yang terjaga. Seringkali akal intelektualitas manusia harus tunduk pada keterbatasan, dimana hanya dengan iman merasa aman. Oleh karenanya agar kita aman maka harus memiliki iman.

Terkait mukjizat israk mikraj kita bisa mengikuti jejak Abubakar as-Shidiq, yang mana ketika Nabi Muhammad saw mengabarkan pengalaman spiritual israk mikraj yang barusaja dijalaninya, maka Abubakar langsung meyakini kebenarannya. Apapun yang datang dari Rasulullah pasti benar, karena rasul sendiri bagian dari “kerisalahan” yang dibimbing oleh Allah Swt.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah Allah telah mengisrakmikrajkan Nabi Muhamnad saw untuk menerima titah shalat. Dengan shalat, selajutnya menjadi sarana penting bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bila sudah dekat dengan Allah, maka segala urusan hamba akan dimudahkan dan diberkahi, sebagaima kedekatan kita dengan para pejabat di dunia ini. Kita dekat dengan keuchik maka urusan di gampong menjadi lancar. Kita dekat dengan gubernur maka urusan di provinsi menjadi mudah, kita dekat dengan pak menteri maka urusan di kementerian menjadi lancar, kita dekat dengan pak presiden maka urusan kita di negara ini menjadi mudah. Maka dekat pada Allah akan memudahkan kita menjalani hidup ini, karena hidup ini ciptaanNya.

Ketiga, bersyukur dengan senantiasa melaksanakan pesan moral israk mikraj, terutama selalu menegakkan shalat lima kali sehari semalam dengan menghiasinya penunaian shalat-shalat sunat lainnya seperti shalat rawatib, dhuha, tahajud, witir, istiqarah dan lain sebagainya.

Keempat, seandainya akan mengadakan peringatan israk mikraj, maka sebaiknya tidak terjebak pada seremonialnya tetapi bagaimana kita bisa menangkap substansi dan pesan moralnya. Di antaranya dengan terus mempelajari kaifiat shalat dan memahami gerakan yang dilakukan dan bacaan yang diucapkan saat shalat.

Untuk ini, kita bisa mengerti mengapa saat peringatan israk mikraj juga dilakukan dengan ceramah, tausiah, kajian, musabaqah dan kegiatan keislaman lainnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!