Mensyukuri Janji

Gema, 14 Mei 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di alam dzuriyat, setiap diri kita sebagai manusia sejatinya telah bersaksi melakukan perjanjian primordial bahwa Allah adalah benar Rabb satu-satunya sesembahan kita. Allah berfirman yang artinya Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” Qs. Al-A’raf 172.

Karena janji itu adalah hutang, maka saat manusia kahir ke dunia ini harus membayar hutangnya pada Allah dengan tetap dalam kesaksian bahwa Allah sebagai satu-satunya sesembahan kita, bukan bertuhankan pada harta, tahta atau wanita/pria atau kayu, batu atau lainnya. Oleh Allah terhadap orang-orang yang tidak atau belum memenuhi janjinya ini diharapkan segera menenuhi janjinya dengan bersaksi kembali bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang disembah.

Inilah mengapa Rasulullah bersabda bahwa setiap bayi dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan fitrah (Islam), namun kedua orangtuanyalah (lingkungan sosial kulturalnya) yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi. HR. Bukhari Muslim).

Sekali lagi hanya dengan berislam hutang kesaksian di alam zuriyat tertunaikan. Oleh karenanya Islam disebut al-Din, yang seakar kata dengan dainun yang bermakna hutang. Dengan demikian ketika kita memeluk din al-Islam, sejati kita sudah berusaha membayar hutang kepada Allah.

Perjanjian primordial di atas merupakan perjanjian pertama sekali yang dilakukan oleh manusia. Sesaat setelah lahir dan hidup di dunia ini terutama dalam konteks sosiologis antropologis, manusia sering membuat dan mengikrarkan janji-janji, sumpah-sumpah, baiat baik antar individu, atau dengan organisasi maupun dengan lembaga tertentu, baik lisan maupun tulisan.

Dalam wikipedia disebutkan bahwa jaji adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara duaorang di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak. Janji juga bisa berupa sumpah atau jaminan. Dengan demikian baik janji, jaminan maupun sumpah merupakan hutang yang harus ditunaikan atau dilakukan atau dibayarkan sesuai perjanjian.

Misalnya seseorang berjanji akan segera membayar hutangnya, berjanji akan bertemu di suatu tempat, berjanji memberikan sesuatu, bersumpah melakukan ini dan tidak melakukan itu dan seterusnya.

Oleh karena itu layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang ajaran akhlak mensyukuri janji.

Pertama, bersyukur dengan mengembangkan keyakinan bahwa janji atau sumpah merupakan hutang yang tidak akan lunas sampai kapanpun kecuali dengan dibayar atau ditunaikan.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan insyaallah. Insyaallah diucapkan dengan setulus hati saat-saat membuat janji dan alhamdulillah diucapkan saat-saat menepati janjinya.

Ketiga, sebaiknya janji dilakukan secara tertulis, sehingga ada bukti yang dipegang. Meskipun demikian janji lisan juga lazimm dilakukan.

Keempat, sebagai orang Islam yang baik, kita akan memenuhi janji, sumpah dan jaminan yang diikrarkan. Kita harus ingat bahwa Rasulullah Nabi Muhammad saw memberikan warning pada umatnya seraya bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim

Tentu kita tidak mau dicap sebagai seorang munafik, oleh karenanya ketika berjanji maka wajib dipenuhi.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!